Tag

, ,

Alhamdulillah, satu tahun sudah dilalui si bungsu Hikma. Saat ini lagi senang-senangnya dia belajar berdiri. Berdiri, sebuah proses yang melibatkan seluruh tubuh, jatuh lalu kembali berdiri.Kagumnya saya sebagai ayah adalah, dia tidak ada kesan menyerah. Apalagi di saat baru bisa bangkit dari duduknya, sekali mencoba berdiri, berkali-kali dia harus terjatuh. Kadang tertawa terbahak-bahak, kadang juga menangis menahan sakit karena benturan.

Setelah banyak berlatih akhirnya dia mengerti bagaimana keseimbangan dirinya, sebuah persyaratan untuk kejenjang berikutnya. Terlihat sangat menikmatinya dan seolah-olah punya kekuatan baru, punya motivasi baru. Dia akan berdiri dimana saja dia suka – di tempat tidur, di sofa, di pangkuan Umminya, saya, atau pun seseorang. Itu adalah waktu yang menggembirakan – Anakku melakukannya!

Sekarang, dia sudah dapat mengontrol dirinya. Dia tersenyum dan tertawa lucu, puas akan keberhasilannya.  Sekarang – langkah berikutnya – berjalan yang ternyata lebih kompleks daripada yang dia bayangkan. Dia berurusan dengan rasa frustasi. Tapi terus mencoba, mencoba lagi dan mencoba lagi dan lagi sampai dia tahu bagaimana berjalan. Terkadang dia terlihat selalu ingin tangan orang lain menjadi pegangan saat berjalan.

Jika saya dan Umminya melihat dia berjalan, kami beri dia tepuk tangan, tertawa, sambil memberi semangat, “Subhanallah, lihatlah apa yang dia lakukan”. “Oh anakku sudah bisa berdiri”. “pandainya anakku, pintarnya anakku” dan lain-lain. Dorongan ini memicu dia; dorongan itu menambah rasa percaya dirinya. Dorongan menjadi motivasi baginya.

Masya Allah, hebat, luar biasa dan mengagumkan. kata-kata itulah yang bisa keluar dari lisan ini. Ketia Allah memberikan sikap berani tanpa rasa takut kepada seorang anak.

Hikmahnya buat kita para orang dewasa, harus selalu belajar pada perjalanan hidup seorang anak balita. Memang, kita bisa melakukan apapun yang kita pikiran. Kita mampu mengatur jika kita mau dan bersedia melewati setiap proses kehidupan. Tapi kenyataannya, masih sering kita –terutama saya tentunya– menunggu orang lain untuk memotivasi kita. Mengapa bukannya kita yang memotivasi diri kita sendiri ?

Marilah kita ihat buah hati kita. Mereka tidak pernah menyerah. Dan mereka yakin serta percaya terhadap kemampuan dirinya. Begitupun kita , bahwa kita mampu dan bisa.  Sekarang saatnya kita  harus percaya pada diri  kita sendiri. Yakinkan bahwa kita pasti bisa.

Terima kasih ya Allah, engkau berikan pelajaran terbaik dari Anakku Hikma. Hari ini adalah hari terbaik dalam hidup kami. Kami bertekad akan meraih masa depan yang indah, dengan membuat perubahan pada hari ini! [*]