Tag

, , , ,

Pernah menyaksikan iklan layanan masyarakat tentang SMK dari Departeman Pendidikan Nasional yang tag-nya seperti ini :

“Pilihlah sekolah menengah kejuruan agar cepat mendapat pekerjaan setelah lulus.” dan “SMK Bisa”

Dengan menghadirkan seorang pengusaha sukses sekelas Subronto Laras dll, yang diharapkan semakin menambah bobot pesan yang disampaikan. Ya anggap saja maunya iklan ini begini : “Tuh Subronto Laras saja merekomendasikan anda jangan ragu-ragu masuk SMK, so kenapa tidak!”

Iklan itu mengajak generasi muda usia sekolah menengah memilih sekolah menengah kejuruan ketimbang sekolah menengah umum. Iming-imingnya jelas: kemudahan mendapat pekerjaan. Sebab, menurut nalar pemasang iklan itu, lulusan sekolah kejuruan memiliki keahlian teknis yang dapat langsung diterapkan, dan tak perlu meneruskan ke pendidikan tinggi setingkat akademi atau universitas.

Ada yang berlebihan dalam iklan tersebut, alih-alih ingin menunjukkan kalau SMK bukan nomor dua dibandingkan SMU, iklan tersebut menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan fasilitas pendidikan tinggi yang berbiaya rendah. Artinya pemerintah mendorong tunas-tunas bangsa tidak meneruskan pendidikan tinggi formal. Selnjutnya, iklan tersebut menyatakan dengan tegas bahwa pemerintah lemah dalam menyediakan lapangan kerja yang layak bagi lulusan pendidikan tinggi.

Opini seperti ini layak diketengahkan, mengingat maraknya demo mahasiswa terhadap perubahan kebijakan pemerintah buat perguruan tinggi entah negeri atau swasta untuk otonom dalam pembiayaan, yang berdampak pada peningkatan biaya kuliah. Pikiran entengnya kuliah dengan biaya selangit, atau mendingan kerja dapat duit ?

NASIHAT GURU BANGSA :

ing ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan
ing madyo mangun karso — di tengah membangun karya
tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan

Itulah tiga kalimat dari ajaran seorang ningrat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Pelopor Perguruan Taman Siswa ini kemudian diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional dan hari lahirnya 2 Mei (1889) diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah pada tahun 1959 […]