Tag

, , , ,

Assalamua’alaikum warahmatullohi wabarokaatuh.

Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin, puji serta syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat All0h SWT, karena atas segala rahmat, nikmat, hidayah serta innayah-Nya kita bisa berkumpul kembali dalam masjid yang mulia ini dalam rangka melaksanakan Sholat Jum’at secara berjamaah.

Sholawat dan salam kita haturkan kepada baginda Nabiyullah Muhammad SAW, para sahabat-sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Sebagai Khotib tak bosan-bosannya menyampaikan wasiat kepada hadirin semuanya lebih khusus kepada diri Khotib sendiri, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Alloh SWT. Dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Karena dengan taqwalah kita bisa selamat di dunia dan di akhirat kelak.

Hadirin yang berbahagia………!

Pada kesempatan ini Khotib ingin menyampaikan Khutbah dengan judul ”Bersih Hati dari Iri dan Dengki”.

Rasa iri bisa membuat orang gelap mata dan selalu memandang dengan su’udzon. Kadang kebencian ini ditularkan kepada orang lain. Dikatakannya keberhasilan yang diraih orang yang di bencinya lewat jalan yang tidak benar. Ada juga yang mencibir, menebar fitnah bahkan membuat makar.

Bila sudah begitu iri hati lebih berbahaya dari pada sakit kronis yang susah diobati.

Dengki timbul karena tiupan setan karena itu segera redam dengan berta’aawudz kepada Alloh.

Caranya dengan membaca ayat Kursi, Muaawidzatain, atau membaca, ”Audzu bikalimatillahi min syarri ma kholaq”. ( Aku berlindung kepada kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk- Nya),

Hadirin yang di Rahmati Alloh…….!

Seorang ahli hikmah mengatakan bahwa orang yang iri sedang menentang Alloh. Alasannya, Pertama, membenci nikmat-Nya yang diberikan kepada orang lain. Kedua, merasa bahwa Alloh tidak adil di dalam membagi karunia-Nya. Ketiga, menganggap bahwa Alloh bakhil terhadap dirinya. Keempat, menganggap hina hamba Alloh dan menyanjung dirinya sendiri.

Kelima, lebih menurut bisikan setan dari pada perintah Alloh SWT. Rasa iri dengki tersebut muncul karena melihat orang lain memiliki kelebihan yang tak ia miliki. Bisa jadi berupa hartanya, bakat atau keahlian tertentu. Kebencian ini menjadi lebih besar bila orang yang didengkinya lebih rendah dari pada kedudukannya.

Semua nikmat Alloh dan kelebihan yang dimiliki hamba tak lain adalah bagian dari qodha’ dan qodar. Manusia tidak dikatakan beriman jika tidak mengimaninya. Alloh memiliki sifat Al-Alim (dzat yang maha tahu) yang menentukan segalanya dengan ilmu-Nya. Karena itu memberi hamba-Nya segala sesuatu yang terbaik baginya. Tugas manusia adalah meyakini sepenuhnya bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan dibagikan sesuai dengan hikmahnya.

Jama’ah Sholat Jum’at yang Berbahagia……….!

Tidak semua Rahmat dapat membuat manusia bersyukur. Ada hamba yang lebih baik miskin dari pada kaya. Sebab kemiskinan dapat membuatnya bersykur bukan kekayaan. Misalnya adalah Qorun, yang dapat beriman tatkala miskin tapi melupakan Alloh ketika kunci-kunci gudangnya tak sanggup di panggul tujuh orang. Ada pula karena mampu mengatur kekayaanya sesuai tuntunan agama, misalnya sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Alloh berfirman yang artinya, “Dan jikalau Alloh melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentunya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Alloh menurunkan apa yang di kehendakinya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 27)

Hadirin yang di Muliakan Allah…..!

Iri dan dengki membuat diri sendiri lupa terhadap banyaknya nikmat yang diperoleh dan kelebihan yang dimiliki, hanya saja bentuk dan proporsinya berbeda. Ia lebih fokus pada kekurangannya bukan potensinya. Ia merasa kurang dan lemah, padahal bisa jadi orang yang didengki tak lebih beruntung orang yang mendengki. Seperti itulah godaan setan, membisikkan bahwa ‘rumput tetangga lebih hijau’.

Selain itu, tidak ada jaminan bahwa tuntunan nafsu akan terhenti saat yang di inginkan berhasil diperoleh. Sebab, tabiat nafsu selalu haus dan merasa kurang.

Karena itu Rasululloh SAW, memerintahkan untuk selalu melihat ke bawah, agar kita sadar bahwa ada banyak orang yang lebih sulit keadaannya.

Sehingga kita mensyukuri apa yang telah dimiliki. Rasululloh bersabda yang artinya : “Jika salah seorang diantara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan rupa, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadirin yang berbahagia…………….!

Batin akan terasa tenang bila dapat menyeimbangkan antara keinginan dan kenyataan. Dengan bersabar dan bersyukur ujian Allah dapat dilalui dengan mudah.

Alkisah, seorang wanita cantik menikah dengan pria yang buruk rupa. Semua orang menyayangkan dan mencibir. Bahkan ada yang berkata bahwa si wanita terkena guna-guna. Tapi hal itu tak dapat membuat suami-isteri tersebut goyah. Suatu hari sang isteri berkata kepada suaminya, “Suamiku, Alloh memberi ujian kepadamu berupa isteri yang cantik, bersyukurlah. Sedangkan aku diuji dengan Anda tapi aku bersabar. Kita berdua mendapatkan pahala.”

Ikhwani Fillah Rahimakumulloh…………..!

Segala sesuatu itu tidak terjadi secara instan. Seseorang tidak terlahir pintar begitu saja tanpa belajar. Orang pandai yang berceramah setelah melalui proses latihan. Orang yang punya banyak teman karena pandai menjaga sikap dan tingkah lakunya.

Intinya keahlian diperoleh dari latihan yang tekun dan kontinyu. Kadang itu semua dilihat sebagai bakat dan telah ada sejak lahir, namun pada hakikatnya hal itu adalah Rahmat dan kemudahan dari Alloh SWT. Kullun muyassarun lima khuliqa lahu (setiap manusia dimudahkan menuju untuk apa ia ciptakan). Jangan lihat hasilnya tapi proses untuk mencapainya, begitu berat dan kadang mengharukan.

Hadirin yang dirahmati Allah…………!

Bila melihat orang lain memperoleh nikmat kenapa rasa iri yang harus muncul? Alangkah indahnya jika turut merasa bahagia. Hati akan merasa lebih tenang dan ikatan ukhuwwah menjadi kian erat.

Rasululloh bersabda, “Tidak sempurna iman seorangpun diantara kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ini adalah tingkatan iman yang tinggi. Untuk menggapainya dengan melatih diri dengan sifat itsar (altruisme), mementingkan orang lain dibanding diri sendiri.

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah…………..!

Demikian khutbah singkat yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita senantiasa terhindar dari sifat iri dan dengki.

Aamiiin…

Adnan Ahmad