Tag

Oleh Husen Arifin
dari Pond. Pest. Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura

takjilBulan suci ramadan melahirkan berjuta keberkahan. Pada bulan yang amat dinanti seluruh kaum muslimin seluruh dunia itu, banyak diadakan kegiatan digelar, mulai dari berbuka dan terawih bersama, tadarus hingga ada sebagian pihak yang memanfaatkan momentum itu mengais rezeki dan mendapat penghasilan tambahan. Biasanya  pihak-pihak yang terlibat didominasi oleh golongan anak muda yang masih duduk perkuliahan. Tak ayal Ramadan seakan menjadi katalisator bagi bermunculannya generasi-generasi wiraswasta instan.

Wiraswasta instan ini umumnya beromzet kantong pas-pasam. Meskipun berbekal bonek (bondo nekat) alias tanpa persiapan, bukan berarti semangat enterpreneurship yang mereka usung melempem. Buktinya di sepanjang trotoar jalanan umum, kawanan wiraswasta instan itu berjejal mengambil peluang dalam menawarkan komoditas jajanan mereka mulai dari es cendol, kolak, cilok dan sebagainya. Entah dari mana resep itu mereka dapatkan, tetapi yang pasti bagi wiraswasta instan apalagi yang berasal dari mahasiswa jurusan ekonomi, inilah saatnya untuk mengaplikasikan ilmu perekonomian yang mereka dapatkan di bangku perkuliahan secara langsung di alam riil.

Cara kerja mereka boleh dibilang sederhana atau lebih tepat dikatakan serabutan Biasanya mereka berasal dari beberapa kelompok, yang kemudian mengumpulkan modal bersama, dengan tujuan ingin mencari pengalaman, mempelajari strategi bisnis, meminimalisir kejenuhan, mereka mencerburkan diri ke dalam bisnis ini. Di dalam Islam, antara takjil dan berwirausaha sebenarnya telah tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, hal itu terlihat seperti dalam firman Allah SWT di surat Ibrahim ayat 31, yang menerangkan bahwa “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”.

Dapat diintasarikan bahwa sesungguhnya berwirausaha dengan membuka lapangan perekonomian secara islami dengan produk “takjil” di bulan suci ramadhan, pun dapat disadari akan menumbuhkan ghiroh atau semangat ber-ukhuwah iqthishodiyah, yang nantinya bisa melakukan silaturrahim antar sesama kaum muslimin dalam mengukuhkan naluri fitrahnya sebagai hamba Allah SWT.

Karena itu, Islam telah memberikan kejelasan di dalam firman Allah SWT seperti yang disebutkan di atas. Sehubungan dengan mahasiswa yang berwiraswasta secara instan dengan menjajakan takjil untuk berbuka puasa, perlu adanya membumikan dirinya dengan menjunjung nilai-nilai keislaman. Sebab bulan Ramadhan adalah bulan yang membimbing seluruh ummat muslimin untuk belajar dan melakukan tradisi keislaman yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Sesungguhnya bulan suci Ramadhan, dapat dimiliki oleh siapapun. Begitu juga mahasiswa yang menginginkan ikut bersumbangsih diri untuk meramaikan indahnya bulan penuh berkah sambil menjual takjil.
Akhirnya, semoga dengan terbukanya lembaran bulan ramadhan 1430 H ini dapat menumbuhkan antusiasme kaum muslimin ataupun mahasiswa untuk selalu berusaha untuk berwirausaha islami dengan menjadikan hidup penuh manfaat dan menyempurnakan iman di hati masing-masing. (*)