Tag

lailLailatul Qadar menjadi sangat akrab di telinga kita pada paruh akhir Ramadhan. Malam seribu bulan, begitu Alquran menggambarkan kemuliaannya, ini diyakini datang pada paruh terakhir Ramadhan itu, khususnya pada malam-malam ganjil. Maka tak heran jika kemudian kegiatan itikaf menjadi sarana untuk melabuhkan harapan mendapatkan Lailatul Qadar. Lailatul Qadar bukan menyatakan fakta pada sebuah malam. Lailatul Qadar memiliki makna simbolik yang berarti kondisi hati yang damai, khusyuk dan tenang.

Ada dua makna yang terkandung dalam kata Lailtul Qadar. Makna pertama adalah sebuah fakta bahwa Lailatul Qadar merupakan keadaan malam yang gulita. Tetapi ada makna lain yang penting kita ketahui yaitu makna simbolik, artinya bahwa Lailataul Qadar itu diartikan sebagai kondisi ketenangan, kesejukan, keindahan, kerinduan serta kekhusyukan yang bersemayam di dalam hati kita. Kalau kita merujuk pada makna simbolik maka mungkin saja di siang bolong seseorang dapat merasakan ketenangan maupun kekhusyukan hati pada saat ia menunaikan ibadah kepada Allah. Ia merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Dan ia pun merasakan perubahan dalam dirinya yang kemudian ia wujudkan dalam perilaku sehari-harinya.

Hal yang harus menjadi perhatian kita adalah bagaimana suasana yang terwujud dalam hati kita, bahwa hati kita kemudian mengalami pencerahan yang akan menuntun diri kita untuk berbuat lebih baik. Ada bekas-bekas yang tergores dalam hati kita yang akhirnya akan menentukan pola perilaku kita pada hari-hari berikutnya. Jadi makna Lailatul Qadar adalah sesuatu yang terpatri dalam hati kemudian membekas dalam perilaku yang digerakkan oleh anggota badan kita. Misalnya, sebelumnya kita selalu berpengarai kasar namun kemudian kita berubah menjadi bersikap lemah lembut.

Maka sejak awal Ramadhan umat Islam mestinya memiliki keinginan yang kuat untuk selalu menjalankan ibadah dan malam-malam terakhir adalah upaya kita untuk terus meningkatkan intensitas ibadah. Ini seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Pada malam-malam terakhir Ramadhan, seakan tak mau berpisah dengan Ramadhan, mereka tetap dengan semangat tinggi menjalankan ibadah.

Semua orang akan berkesempatan untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Hanya mungkin intensitas atas kualitasnya yang berbeda. Orang-orang yang tak berpuasa tentu akan mendapatkan tingkatan yang paling rendah. Ramadhan adalah bulan curahan rahmat sehingga siapapun akan mendapatkan rahmat Allah yang dicurahkan melalui Ramadhan tersebut. Ternyata, curahan rahmat itu tak hanya diberikan secara spiritual tetapi juga secara material. Kita bisa melihat bagaimana Ramadhan telah menjadi pemantik perkembangan ekonomi masyarakat. Baik dalam bidang perdagangan maupun jasa angkutan dengan adanya fenomena mudik di dalam masyarakat kita. Kita bisa bayangkan berapa jumlah uang yang berputar selama Ramadhan tersebut. Ini merupakan sesuatu yang menarik untuk dicermati.

Bilangan seribu bulan, itu adalah bilangan maksimum yang diketahui pada masa nabi dengan demikian pernyataan yang keluar adalah bahwa Lailatul Qadar memiliki kemulian melebihi seribu bulan. Sehingga bilangan ini tidaklah eksak bisa saja dinyatakan bahwa kemuliannya melebih miliaran atau bahkan triliunan bulan. Di sini menunjukkan bahwa seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar sangat beruntung.

Melalui itikaf, umat Islam dituntun untuk membuka topeng yang ada di dalam dirinya. Malam-malam itu sangatlah penting karena adanya peluang munculnya kesadaran dalam diri seseorang siapa sebenarnya dirinya yang sudah pasti akan kembali kepada Allah. Jangan sampai kita hanya menjadi onggokan nafsu yang hanya memburu keinginan-keinginan. Justru kesuksesan Ramadhan adalah berkurangnya kekuasaan nafsu dan tertanamnya sifat-sifat Allah di dalam hati kita. [*]

Disarikan dari Republika