Tag

,

klan sebagai wahana mengenalkan sebuah produk, saat ini menjadi hal yang tidak terelakkan bagi sebuah perusahaan. Dari hari ke hari iklan semakin gencar dilakukan.

Kawan, satu iklan yang cukup menggelitik selama kurun waktu berminggu-minggu adalah iklan yang diusung produk kartu SIM 3.

Bagaimana tidak, rombongan bule para pemain Manchester Utd FC yang sedang belajar Bahasa Indonesia. Kacau memang, tapi itulah mereka, kalu menurut saya kocak dan menggemaskan.

Coba perhatikan ekspresi mereka saat terjadi dialog ini :

“Ini Budi..”, kata bu guru

“Ini Budi..” kata Rooney cs dengan aksen bulenya.

“Budi bermain bola..”, kata bu guru

“Budi bermain bola..” kata Rooney cs dengan aksen bule, sedangkan Ferdinand yang menundukkan kepalanya itu yang membuat semakin lucu.ha..ha…

Tapi sayang ya, harapan menjadi tuan rumah yang baik buyar sudah, ‘Jakarta Bombing’ begitu yang terjadi. Perhelatanpun batal. Pemain, penonton kecewa, terlebih panitia yang saat ini sedang berusaha mengembalikan uang pembelian tiket. Pyuh…..

Kawan, ini adalah fragmen kehidupan. Berlalulah apa yang terjadi, tetapi iklan tetaplah iklan……

Beberapa saat kemudian muncul iklan……

budi teruslah bermain bola

Suasana berubah menjadi gelap dan hitam. Tak jelas lagi. Tertinggal sebaris huruf-huruf merangkai kalimat dengan warna putih pada dasar warna hitam pekat.

“Budi, teruslah bermain bola”

Dalam persepsi saya, banyak pesan pada kalimat Budi teruslah bermain bola. Pertama, menarik mengapa kreator iklan menggunakan tokoh budi untuk mendapatkan adegan main bola. Mengapa bukan Boas, Bambang atau siapa pemain bola top  nasional. Budi memang legendaris. Namun sebatas mampu memperkenalkan nama diri sendiri dengan ayah, ibu, kakak dan adiknya saja. Mungkin dengan Budi mulai bermain bola dengan MU maka menjadi langkah awal Indonesia untuk melegenda di pentas dunia.

Kedua, Indonesia teruslah bermain bola saja. Karena memang tak pantas bertanding sepak bola. Kemampuannya hanya sebatas bermain-main bola. Bukan menguasai bola dan mempermainkan permainan sepak bola yang menawan hingga layak bertanding dengan tim sepak bola dunia. Oleh sebab Indonesia hanya mampu bermain bola, sementara MU maunya bertanding sepak bola. Maka daripada MU terjangkit kelakuan bermain bola hingga menurunkan kualitas mereka, maka pertandingan itu urung dilaksanakan.

Ketiga, hidup terus berlanjut kawan, teruslah semangat. Ini pesan kuat yang saya tangkap. Ada dorongan dan semangat yang dipompakan, agar budi terus bermain bola meskipun bom meneror Indonesia. Tak ada alasan untuk berhenti belajar dan mengasah diri dalam permainan sepak bola. Bahkan bom pun tak semestinya menjadi pemicu patah semangat budi untuk terus maju. Budi, sebagai manifestasi generasi muda Indonesia semestinya segera bangkit dan melanjutkan apa yang menjadi cita-citanya. Karena dengan “terus bermain bola”, terbuka peluang yang lebar, Budi akan menjadi pemain bola top dunia sekelas Wayne Rooney dan pemain MU lainnya.

Kalimat Budi teruslah bermain bola juga semestinya menginspirasi semua orang yang membaca pesan itu. Termasuk saya. Proses menata hati pada saat direhatkan kemarin. Bahwa apapun yang terjadi dalam diri kita, semestinya tak membuat patah hati dan semangat hidup. Melanjutkan apa yang telah dimulai sampai tujuan akhir perjalanan hidup. Bagi yang seseorang yang  kehilangan bahu yang tak mampu lagi menjadi sandaran atau berbeda dengan sahabatnya. Atau perempuan yang tanpa lelah menunggu senja. Ucok yang yang menanyakan dimana sekolahnya. Atau yang merasakan pahitnya kejujuran. The show must go on! Teruskan hidupmu! Masih banyak cinta dan pengharapan di depan sana.

Seperti Budi yang terus bermain bola, meskipun bom mengguncang Indonesia dan urung tampil elok dalam pertandingan persahabatan dengan Manchester United, saya dan sampeyan pun semestinya meneruskan hidup ini dengan penuh pengharapan dan impian. Eh, kapan kita dapat bermain bola bareng?

Makasih buat Mas Anjari : http://anjari.blogdetik.com