Tag

, , ,

Sudah sekian lama permasalahan rumah tangga menjadi pembahasan di berbagai kalangan. Mulai dari gang kecil hingga ke istana negara. Tidak sedikit waktu diluangkan untuk membahas dan mengurai permasalahan, hingga terbit undang-undang yang mengatur kerumahtanggaan.

Islam menetapkan aturan bagaimana membangun dan memelihara rumah tangga. Bagi kita sebagai seorang muslim, cukup rasanya Islam menjadi aturan bagi keberlangsungan suatu rumah tangga. Demikian lengkap Islam mengatur, hingga kita tidak perlu mencari celah untuk menambah atau menguranginya.

1- Persoalan rumah tangga dalam Islam dimulai dari pra nikah. Apa yang perlu dipersiapkan bagi calon suami maupun calon istri, baik secara mental, spiritual dan wawasan ilmiah. Lalu bagaimana mekanisme memilih calon pasangan, tata cara melihatnya, meminangnya.

2- Tahap berikutnya, aturan saat hari H pernikahan, apa syarat dan rukunnya. Apa saja yang membuat pernikahan sah secara syariat dan apa pula yang menggugurkannya. Hak dan kewajiban suami, dan sebaliknya hak dan kewajiban istri diatur. Semuanya diatur secara rinci.

3- Tahap berikutnya, bagaimana melewati malam pertama, do’a saat pertama bersentuhan dengan istri, do’a saat hendak melakukan hubungan badan, tentang larangan-larangannya, adabnya dan sebagainya.

4- Lalu setelah kehamilan hingga melahirkan, apa yang harus dilakukan. Bagaimana membentengi anak dari gangguan syetan, mendidiknya saat masih dalam kandungan hingga ba’da kelahirannya. Bagaimana tata cara mensyukuri nikmat dikaruniai anak; salah satunya dengan menyelenggarakan aqiqah.

5- Lalu setelah tumbuh menjadi anak-anak, remaja, lalu dewasa. Bagaimana hubungan yang ideal antara orang tua dengan anak, apa hak dan kewajiban masing-masing.

6- Kewajiban orang tua diakhiri saat menghantarkan anaknya sampai gerbang pernikahan. Lalu lahirlah keluarga baru.

Demikianlah siklus ini berjalan di tengah umat Islam, dari zaman Nabi hingga zaman kita saat ini. Nampaknya, kita perlu bijaksana menetapkan langkah, akan dibawa kemana keluarga yang kita bangun dengan segenap keseriusan ini. Tentunya, sudah menjadi keharusan bila penetapan tujuan dan jangkauan yang lebih luas tentang makna berkeluarga. Tidak lagi hanya sekedar coba-coba yang akan mendatangkan malapetaka bagi generasi yang akan datang. [*]