Tag

, ,

kufahDi kota Kufah (salah satu kota tertua di Irak), terdapat pemuda tampan nan kuat beribadah serta sangat rajin bekerja. Suatu saat dia mampir berkunjung ke sebuah kampung Bani An-Nakha’. Dia menyaksikan seorang wanita cantik paras wajahnya, sehingga jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun jatuh cinta padanya. Oleh karena itu, akhirnya sang pemuda mengutus seseorang untuk melamarnya. Namun betapa kecewa, saat sang mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, “Aku tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan engkau. Bila engkau setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku”. Sang pemuda tadi menjawabnya melalui orang suruhannya, “Aku tidak setuju dengan dua alternatif usulan engkau itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku dan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar.” (Yunus:15) Sungguh aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya”.


Ketika disampaikan pesan tadi kepada sang wanita, dia berkata, “Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda.

Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya, dia menangis dan mendo’akanya.

Suatu waktu sang pemuda tertidur di atas kuburanya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah engkau meninggal?”

Dia menjawaba, “Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan.”

Pemuda itu bertanya, “Jika demikian, kemanakah engkau menuju?” Dia jawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”

Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.” Jawabnya, “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”

Si pemuda bertanya, “Kapan aku bisa melihatmu?” Jawab si wanita: “Tak lama lagi kau akan datang melihat kami.” Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia. [*]