Tag

, , , ,

politikHari kebangkitan nasional telah lama menjadi ritual tahunan untuk dirayakan di negeri ini. Renungan berikut ini memungkinkan kita untuk menghayati makna eksistensi sebuah bangsa…..terlebih ketika kita disibukkan dengan urusan-urasan yang telah masuk ke dalam ranah politik. Semoga Allah melindungi kita dari orang yang telah, akan atau selalu berpolitik. Sebab jika politik telah merasuk hati, pasti akan meresahkannya, dan jika telah memasuki pikiran, pasti akan melemahkannya. politiklah pemudar kemegahan ilmu dan keelokan khidmat kepada Allah. Ia menjalar di dalam hati seperti penyakit di dalam tubuh, dan merecoki pikiran seperti khamar yang memabukkan. Orang yang mereguknya seteguk saja tidak akan sembuh untuk waktu yang cukup lama.

Politik telah membunuh Husain, menyalib Ibnu az-Zubair dan menyembelih Sa’id ibn Jubair.

Politiklah yang membuat sepi halaqah-halaqah ilmu, daras-daras pencerah kesadaran dan lembaga-lembaga pengetahuan.

Politik seperti bunglon, setiap hari berganti warna. Seperti ular, lembut disentuh namun punya racun yang sangat mematikan. Seperti buah basil, aromanya wangi namun rasanya pahit. Batinnya berupaya mengejar tampuk kepemimpinan, syahwatnya untuk menjadi yang terdepan dan penyakitnya ingin berkuasa. Sedangkan zahirnya berupaya menyelamatkan manusia, memperbaiki dunia dan membahagiakan rakyat.

Orang yang terjun ke gelanggang politik tanpa bekal takwa dan niat mencari keridhaan Allah, akan melupakan akhiratnya, menjual agama, melepaskan pahala, melenyapkan ganjaran, meletihkan jiwa dan menggadaikan kepalanya.

Politik tanpa disertai cahaya wahyu, bukti syari’at dan otoritas agama tak lain dari hiasan janji-janji palsu dan menipu, bedak kemunafikan, topeng kebatilan dan tumpukan kebohongan. Allah SWT berfirman, “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak , di atasnya  awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya,  barangsiapa yang tiada diberi cahaya  oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. An-Nur[24]: 40)

Orang yang telah terpesona oleh politik, akan semakin dahaga. Dia mengalirkan darah dengan alasan melindungi agama, merampas harta dengan dalih melindungi hak-hak asasi manusia dan memperbudak manusia dengan trik menyatukan suara.

Orang-orang shaleh terdahulu menghindari politik saat gerbangnya terbuka lebar untuk mereka, meskipun dunia sedemikian menggoda, zamannya sangat mendukung, harta begitu menggiurkan dan umur masih begitu muda belia. Mereka diminta masuk, tetapi mereka menghindar. Mereka ditawari berbagai kenikmatan, tetapi mereka menolaknya. Kemudian, setelah mereka, datanglah generasi yang berimpit-impitan di gerbang politik, meskipun gerbang itu tertutup rapat untuk mereka.

Bagaimana menurut  Anda ? [*]

Disarikan dari tulisan Dr. A’id abdullah Al-Qarni [Hadaa’iq Dzaatu Bahjah].