Tag

, ,

protesanggaransepakbolaSudah seperti sebuah “kelaziman” bila tiba musim final dari sebuah turnamen sepak bola dunia, sebut saja Piala Dunia, Liga Champions, Liga Eropa, Piala FA dll, suasana malam berubah seperti menjadi malam-malam saat sahur di bulan Ramadhan. Fenomena ini yang sempat saya saksikan mulai hari Rabu hingga Kamis dini hari (27/5) yang lalu.

Rumah-rumah -tentunya tidak semua- diwarnai hiruk pikuk pendukung dari tim yang sedang bertanding. Kafe-kafe menyediakan ruangnya untuk disulap menjadi ruang tonton bareng dengan didesain sedemikian rupa untuk menarik minat pelnggan mampir di tempatnya.

Sejumlah statsiun TV menayangkan ulasan dan prediksi serta bagi-bagi  hadiah sehingga mengundang antusiasme penggila bola tanah air.

Bursa taruhan semakin mendekati hari-H semakin dipadati peminat, begitu pula peramal dan ahli tebak semakin meningkatkan pelayanan dengan berbagai fasilitas semisal SMS, email, Facebook atau langsung praktekterbuka.

Bola sudah menjadi “candu” dan bandarnya adalah media massa. Pecandunya tersihir dan terjaring dalam cengkramannya. Sedemikian parahkah ?

Seorang mungkin bertanya, “kenapa orang mau dibodohi oleh sepak bola, dengan 22 orang berlari layaknya orang gila, mengejar-ngejar satu bola yang akan dijaringkan ke gawang yang dipertahankan mati-matian layaknya mempertahankan kehormatan, dengan tackling yang kadang dapat membuat retak tulang. Sedangkan di pinggir lapangan ada sosok yang mengatur strategi layaknya panglima perang, adapun di tempat duduk stadion lebih gila lagi, banyak orang bersorak-sorai namun semenit kemudian dapat menangis sedih, seringkali setelah keluar stadion baku hantam antar supporter tak dapat dielakkan, untuk urusan accecorisnyapun gak kalah edannya, dari kepala yang dicat warna bendera sampai pemakaian kostum layaknya kepala suku. Bagaimana dengan yang nonton lewat TV ? Mereka pun rela memelototi tayangan hingga subuh menjemput….sampai kondisi fisiknya drop, tetap saja tak memperdulikannya.

Nampaknya sihir bola tidak saja menguasai masyarakat bawah, bahkan presidenpun dikuasainya, coba tengok laporan dari Okezone :

Malam Nonton Bola, SBY Sepi Agenda Pagi-Siang
Kamis, 28 Mei 2009 – 11:20 wib

Amirul Hasan – Okezone

JAKARTA – Ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan kunjungan kerja ke Tangerang untuk menyerahkan kunci dan peletakan batu pertama perumahan karyawan Griya Puri Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) justru lebih memilih beraktivitas di Istana Negara.

“Oh ya Bapak ada di dalam, semalam nonton bola di sini,” ujar salah satu staf di lingkungan Istana Kepresidenan, Kamis (28/5/2009).

Sebagaimana diketahui, kemarin SBY berjanji akan menyaksikan tayangan final Liga Champions antara Manchester United dan Barcelona di Istana Negara bersama keluarga dan beberapa stafnya.

“Nanti malam saya akan menonton,” ungkap SBY di halaman Kantor Presiden kemarin.

Menurut informasi yang diterima okezone, hari ini rencananya SBY akan mengikuti Dialog Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM) sore ini. Calon wakil presiden Boediono pun dijadwalkan akan mendampinginya.

Adapun pada malam harinya, SBY beserta Ibu Negara Ani Yudhoyono akan menghadiri Tasyakuran Hari Lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-49 di Raflesia Grand Ballroom Balai Kartini, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta. (nov)

Bila hal yang terjadi sedemikian, maka nikmati saja Sepak Bola Dunia yang berada di hadapan Anda, tidaklah terlalu penting apakah hal itu sesuai nalar atau bukan, yang terpenting ekspresikan saja emosimu, berteriak manakala tim Anda menang, dan puaskanlah “kegilaan” itu, namun jangan lupa ibadah padaNya seraya beristighfar semoga bencana di Indonesia segera berakhir,  Presiden terpilih adalah sesuai harapan rakyat dan tetaplah waspada pada sesuatu yang akan terjadi kemudian…..[*]