Cerita ini saya dapatkan dari guru sejarah saya, yang beliau kliping dari koran harian sore Sinar Harapan. Semoga dapat memberi motivasi.

keleak-taiSuatu sore seekor kumbang bersusah payah mendorong-dorong kotoran gajah di suatu tanjakan yang terjal, tepat di muka sarang semut menuju sarang kumbang tersebut. Seekor semut mendekati sang Kumbang, seraya bertanya, ”Dimana Anda dapatkan makanan selezat itu Kumbang ?”. ”Ada di suatu tempat yang cukup jauh, untuk mencapai tempat itu kita harus berjalan satu hari penuh”, jawab Kumbang terengah-engah.

”Maukah Anda membawa kami ke tempat itu?”, pinta Semut. ”Tentu, tapi untuk itu tolong dorong makanan lezat ini ke sarangku dulu. Nanti saya beri tahu bagaimana caranya mencapai tempat itu”.

Sang Semut pun memanggil kawan-kawannya untuk bersama-sama mendorong kotoran gajah itu ke sarang Kumbang. Sebagaimana lazimnya pihak yang dibantu, sang Kumbang membagi-bagikan makanan ala kadarnya kepada semut-semut yang membantunya dengan janji akan bertemu kembali keesokan pagi harinya di tempat pengumpulan (gudang) makanan sang Kumbang, yang tempatnya sebenarnya tidak terlampau jauh dan sarang semut. Tentu saja sang Semut yang pertama kali melakukan pendekatan serta kemudian memobilisasi kawan-kawannya mendapat perhatian khusus. Karena jasa-jasanya itu ia mendapat makanan lebih dibandingkan semut-semut lainnya.

Sebenarnya gudang pengumpulan makanan itu adalah sarang gajah tempat di mana dengan sendirinya banyak kotoran gajah berserakan.

Keesokan paginya berkumpulah para semut di gudang pengumpulan makanan sang Kumbang. Akan tetapi sang Kumbang tidak kunjung tiba. Sore hari baru terlihat sang Kumbang dengan terseok-seok datang sambil mendorong-dorong kotoran gajah. Dari jauh sang Kumbang sudah berseru: ”Bagaimana mau maju, kalau kalian malas! Keluar sarang saja terlalu siang!” Setelah mendekat sang Kumbang berteriak lagi: ”Pantas kalau tidak maju, sudah malas tidak punya inisiatif. Kalian lebih memilih menganggur seharian daripada berinisiatif mendorong makanan ini ke sarangku. Jangan takut, nanti kalian akan aku bagi”.

Kembali mereka bersama-sama mendorong kotoran gajah menuju sarang sang Kumbang. Dan sebelum pulang, seperti biasa semua dapat oleh-oleh dan tentunya sang Semut sebagai mobilisator mendapat oleh-oleh lebih.

Sejak saat itu sang Semut itupun diangkat sebagai ”koordinator” kegiatan pencarian kotoran yang merupakan makanan bagi Semut dan Kumbang.

Keesokan harinya lebih pagi dari sebelumnya, kembali kawanan semut itu berkumpul di tempat yang sama dan ternyata kali inipun mereka masih kurang pagi. Sang Kumbang sudah lebih dahulu berangkat dan baru sore hari ia kembali. Akan tetapi karena takut disebut malas dan tidak punya inisiatif, maka kawanan semut itu tanpa disuruh mulai mendorong kotoran gajah itu ke sarang Kumbang.

Demikianlah hari demi hari selanjutnya adegan yang sama kembali berulang. Sepagi apapun kawanan semut ini berkumpul, sang Kumbang ternyata masih lebih pagi lagi, sudah tidak ditemukan di tempatnya. Akhirnya karena sudah terbiasa melakukan hal-hal rutin seperti itu, maka kawanan semut tanpa terasa seolah-olah menjadikan kegiatan ini sebagai norma. Tanpa disuruh mereka berkumpul, tanpa diminta mereka mendorong kotoran gajah ke sarang Kumbang dan sore harinya sang Kumbang akan membagi-bagikan hadiah ala kadarnya kepada kawanan semut itu.

Suatu hari, ada seekor semut muda yang sangat kritis menyatakan protesnya kepada Semut koordinator, setelah ia melihat seekor gajah buang kotoran di gudang pengumpulan makanan Kumbang. Semut muda ini berkata setengah berbisik, ”Kita sudah ditipu oleh sang Kumbang, saya melihat sendiri gajah buang hajat di lokasi gudang. Jadi kotoran gajah itu bukan hasil si Kumbang dan gudang itu ternyata sarang gajah”. Semut koordinator kaget dan berkata, ”Hush jangan sampai sang Kumbang tahu kamu bicara seperti itu. Kalau sampai tahu, bisa susah kita. Nanti, kalau dia marah dia bisa suruh gajah-gajah itu buang hajat di tempat jauh. Kemana kita akan mencari makan?” serunya setengah melotot. ”Mana mungkin ? atau mengapa tidak kita rebut saja gudang makanan itu” sang Semut koordinator menyanggah, ”Terus kalau sudah kita rebut, apa bisa kita mempertahankan gajah-gajah itu supaya tetap buang hajat di situ ? Sebaiknya kamu sadar, kita harus mengakui bahwa kita masih bodoh, belum siap untuk mengambil alih gudang itu. Kita harus belajar dulu, nanti kalau sudah siap baru kita tinggalkan Kumbang itu.”

Dengan meradang semut muda itu terpaksa menerima keterangan sang Semut koordinator.

Untuk sementara kondisi pun kembali tenang. Perkembangan ini kemudian dilaporkan oleh Semut koordinator kepada sang Kumbang. Tentu saja sang Kumbang senang mendengarkan laporan itu dan memberi hadiah tambahan kepada Semut koordinator seraya berpesan bahwa ”kita harus waspada terhadap mereka yang ingin melanggar aturan dan keamanan yang sudah sama-sama kita nikmati serta kita sepakati, he..he..he..”. “Baik kawan, akan saya ingat pesan itu, he…he…he…” jawab sang Semut.

Ketenangan ini tentu saja tidak berumur panjang karena perubahan yang dijanjikan oleh Semut koordinator tidak kunjung datang. Semut muda yang kritis tadi kembali melakukan gerakan, dimobilisasinya kawan-kawannya untuk melakukan pemboikotan. Ketika sedang mengangkut kotoran gajah ditanjakan yang terjal, mendadak dia bersama kawan-kawannya melakukan walk out, keseimbangan bawaannya menjadi terganggu dan kotoran itupun menggelinding bersama para pendukung sang Kumbang dan terhempas hancur berantakan seraya menimpa sang Kumbang di lembah yang kotor dan bau penuh dengan kotoran gajah yang nista dan najis itu. Sang Kumbang bersama para pengintainya mati di dalam kotoran yang menjijikan.

Apakah setelah sang Kumbang beserta pengikutnya mati, maka gajah-gajah itu memindahkan sarangnya? Tentu saja tidak. Apakah semut-semut itu kemudian kekurangan makanan? Tentu saja tidak. Malapetaka baru timbul ketika semut muda yang kritis itu kemudian mengangkat dirinya menjadi koordinator dan dengan taktik penjajah mengatur pembagian makanan seolah-olah dialah penyelamat kawanan semut itu dan satu-satunya penguasa serta tidak ada lagi semut lain yang mampu menandinginya. Dia kemudian menggantikan kedudukan sang Kumbang dan bertingkah laku persis sama dengan sang Kumbang memperbudak sesama semut. Sejarah pun berulang.

Silahkan kawan-kawan berbagi di ruang komen dengan posting pelajaran yang terkandung di dalam cerita tersebut di atas. Makasih banyak. [*]