Tag

, ,

Tulisan ini saya adaptasi dari Mas Herry Mardian, yang akan saya persembahkan secara khusus buat kawan-kawanku yang telah kehilangan ayahanda masing-masing beberapa hari yang lalu ++saya tidak sebut nama atas permintaan mereka++ di Demak dan Bojonegoro…….

Sesaat terlintas dalam ingatan perkataan guruku beberapa tahun silam…….”SABAR itu bangkit dari keterpurukan,” katanya padaku dengan lembut, bertahun-tahun yang lalu. Dan baru sekarang dapat kuraba sedikit makna dari kata-kata itu, saat bersama rombongan berta’ziah saat ayah dari sahabatku menghadap Alloh.

Bangkit dari keterpurukan, bermakna keterpurukan jiwa dan keterpurukan jasad. Keterpurukan ukhrawi, dan keterpurukan duniawi.


SABAR adalah melawan diri sendiri. SABAR adalah berjuang. Mujahadah, mujahadah, mujahadah. Bukan untuk mengejar kemenangan. Sebab menang atau kalah, adalah anugerah Alloh. Berjuang menghadapi persoalan… berjuang menghadapi syahwat dan hawa nafsu yang tak mau ditundukkan… berjuang menghadapi tarikan dunia dan tipuan syetan. Berjuang melawan keresahan dan stagnasi, kesedihan dan kenistaan…….

Terus berjuang, jatuh bangun. Marah, menangis, ataupun murung. Bangkitlah, berdoa, berserah diri, dan hadapi… sampai Alloh menurunkan anugerah-Nya.

Jangan pikirkan menang atau kalah, berhasil atau gagal. Kita tidak tahu apa yang ada di depan, Alloh menyimpannya. Sebagai hadiah.

Ketika Musa diperintahkan berjalan terkepung di laut merah, -depan lautan ganas dan belakang pasukan kedzaliman- apakah ia tahu lautan akan terbelah? Ketika Ibrahim diperintah menyembelih buah hatinya, apakah ia diberi tahu tentang seekor domba yang akan menggantikannya? Ketika Muhammad dan sekumpulan peternak, pedagang dan pengembara diperintahkan menghadapi seribu angkatan bersenjata quraisy yang terlatih, berkuda dan bersenjata lengkap, apakah ia diberi tahu tentang kemenangan?

Tidak! Sadarkah kita, bahwa sesungguhnya kita bertempur melawan ketakutan kita sendiri. Melawan ketidakyakinan sendiri, pesimisme sendiri. Rasa ketakbergantungan pada Alloh-lah yang kita perangi. Sampai muncul jeritan yang paling dalam dari dalam jiwa, sebuah rasa yang murni, kesadaran bahwa kita tidak bisa apapun, tidak mampu apapun, tidak memiliki kepastian apapun, selain sebuah kefakiran dan sebuah harapan akan pertolongan Alloh. Inilah buahnya: “rasa fakir yang teramat sangat jika sedang tidak bersama Alloh.”

Q. S. [2] :155, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.”

Kekurangan harta, secara hakikat, juga berarti kehilangan keyakinan akan kemampuan diri, kehilangan atribut palsu yang biasa kita jadikan landasan rasa percaya diri palsu, kehilangan thaghut yang kita jadikan gantungan. Kehilangan status, kehilangan pangkat dan kekayaan semu.

Kekurangan jiwa, kehilangan kekasih, sahabat, teman dan keluarga yang kita cintai. Kehilangan bahan bakar ’semangat’ palsu yang biasa kita jadikan andalan dan sandaran: karena Dia-lah satu-satunya yang berhak dijadikan tempat bergantung dan berharap. Semua ini akan diganti-Nya dengan —yang lebih baik—: yang menjadikan kita lebih mendekat kepada-Nya.

Kekurangan buah-buahan, kehilangan petunjuk, pengelihatan dan pemandangan spiritual. Kau, berhentilah berlaku seperti anak kecil, hanya bermain-main dan terpesona dengan keajaiban. Perjalanan ini bukan tamasya.

Ini sebuah hijrah. Maka teruslah melangkah. Jangan berhenti.

Dengan ini semua kita dipilah-Nya, mana yang benar-benar mencari-Nya dan mana yang tidak.

……….dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati. [QS. Ali Imran : 154]

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. [QS. Al-Kahfi : 7]

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [QS. Al-Mulk : 2]

Siapa yang benar-benar membutuhkan-Nya, atau hanya butuh ketika susah saja…

Dan ketika tidak tetap lagi pengelihatan dan hatimu naik menyesak hingga ke tenggorokan, dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.

Di situlah Al-Mu’minuun diuji dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.

… dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allah dan Rasulnya tidak menjanjikan pada kami melainkan tipu daya.” [QS. Al-Ahzab : 10-12]

Tapi di belakang semuanya, ingatlah:

“Tetapi, Allah-lah pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik penolong.” [QS. Ali Imran : 150]

Tuhanku, pemahaman ini…. tak akan pernah cukup syukur hamba pada-Mu. Tak akan pernah. [*]

Makasih banyak buat Herry Mardian.