Tag

pemiluPagi ini Pemilu untuk anggota DPR, DPD dan DPRD dimulai. Persiapan panitia di TPS  tempat saya memilih terlihat cukup sibuk. Kursi tunggu yang berderet di bawah terop sederhana. Berbagai petunjuk cara memilih, deretan photo dan gambar partai yang harus dicontren tertempel -tepatnya tergantung- di tali rapia pembatas, dan sebagian tertempel di dinding bangunan yang bersebelahan dengan TPS. Terkesan sederhana -boleh juga dibilang apa adanya- untuk pemilu di tempat saya kali ini. Padahal pada Pemilu 1999, saya masih ingat terop yang dipakai adalah terop yang biasa digunakan di pesta atau saat kelurahan menerima kedatangan Walikota -ada plafonnya-. Panitianya juga pakai seragam batik -keren lah-. Saya sempat tanya kenapa? Jawabnya anggarannya sedikit (?)

Lho, bukankah biaya Pemilu kali ini sangat besar -mahal- ?

Berdasarkan perhitungan KPU, biaya Pemilu 2009 besarnya  Rp. 47.941.202.175.793, yang bersumber dari APBN dan APBD yang diturunkan pada tahun 2008 dan 2009. Dan berdasarkan pengumuman KPU tanggal 24 Oktober 2008, jumlah daftar pemilih tetap adalah 174.410.453.

Jadi biaya pesta ‘demokrasi’ ini per orang adalah Rp 271.376,- Harga yang cukup mahal kan untuk sebuah pesta demokrasi di tengah krisis global. (????)

Bingung. Pusing. Gak mudengi. Koq mahal sekali ya ? Apa kertas suara dengan kualitas bagus ini  yang berbiaya mahal, atau kotak suara yang terbuat dari plat ini kelihatannya pada baru…..yang mahal ? Apakah kotak suara dan bilik suara yang bekas Pemilu yang lalu sudah tidak layak pakai ?Atau barang kali hilang karena dirombengkan ?? Ah….gak ngerti !!! Gimana kalo ini proyek ?

Public Blog Kompasiana. Layaknya sebuah pesta, biaya akan menjadi sangat mahal apabila semua peralatan pesta seperti piring dan sendok menggunakan yang baru. Begitu juga dengan pesta demokrasi ini. Tingginya biaya pemilu bisa terjadi karena pengadaan logistik yang tidak semestinya terjadi. Pengadaan kotak suara adalah satu contohnya, padahal seperti kita ketahui banyak pilkada di setiap daerah yang juga menggunakan kotak suara. Padahal dengan menggunakan kotak suara yang lama, akan terjadi banyak penghematan. Selain kotak suara, bilik suara yang pernah digunakan untuk pilkada juga dapat digunakan kembali demi efisiensi biaya.

Kutipan dari sebuah forum :

Nufransa Wira Sakti,
— 26 Februari 2009 jam 6:20 pm

Pak Bambang, betul sekali, banyak yang masih “project minded”. Harapan terakhirnya mudah-mudahan saja pengadaan barang tsb dikerjakan dengan benar, tidak digerogoti dan yang paling penting lagi supaya bisa dimanfaatkan untuk pemilu /pilkada berikut.

Bagaimana menurut Anda ?

kotaksuara2