Tag

, , , , ,

Banyak cara untuk menggapai cita-cita. Salah satu cita-cita saya setelah kelahiran anak adalah Aqiqah. Tentunya fokus utama……benar, biaya alias dana. Gak sedikit lho dana yang harus disiapkan, iya kalau selalu ada, kalau tidak……ya…tidak wajib khan🙂.

Alhamdulillah, tepat hari ke-7 (27/3) aqiqah buat Hikma Maulidya bisa terlaksana. Sederhana dan tidak ribet -melibatkan pihak ke-3- karena diurusin sama Ust. Suyanto dari Pelayanan Aqiqah 40 Barokah. Alhamdulillah.

Dalam posting kali ini saya ingin berbagi dengan Anda tentang hal ini. Insya Alloh lain kali saya akan postingkan syari’at Aqiqahnya.

Yang kita fahami tentang aqiqah adalah : sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi. Jumhurul ulama menyatakan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan. Pelaksanaannya dapat dilakukan pada hari ke tujuh (ini yang lebih utama menurut para ulama).

Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya]

Aqiqah sebagai salah satu sunnah rasul adalah bentuk ucapan syukur atas kelahiran putra atau putri kita yaitu dengan menyembelih seekor atau dua ekor kambing dimana dagingnya dibagikan kepada tetangga, fakir miskin ataupun yatim piatu.

Namun, tentunya kita tahu dong, bila harga seekor kambing saat ini tidak murah, apalagi bila dua ekor. Terbayang banyaknya dana yang harus keluar ketika kelahiran anak yaitu untuk persalinan, rumah sakit dan lain-lain (catatan: Bagi yang belum berkeluarga jangan berkecil hati apalagi berniat tidak berkeluarga????). Apalagi bila kelahirannya adalah melalui proses caesar yang biayanya selangit. Saya gak mau cerita bila ada asuransi kesehatan lho –itu lain cerita-. Namun bila tidak, tentu saja diperlukan persiapan menghadapi pengeluaran-pengeluaran tak terduga tersebut.

Berikut ini ada tips sederhana dalam mempersiapkan dana untuk aqiqah berdasarkan sharing pengalaman. Intinya adalah menyisihkan sebagian pengeluaran kita untuk ditabung, dalam hal ini saya coba dengan nabung harian. Mengapa harian? Karena dengan harian, nominal yang perlu disisihkan cukup kecil karena waktu yang diperlukan sangat singkat, dibandingkan bulanan. Juga yang lebih penting tentunya untuk mendisiplinkan diri kita.

Kita mulai menghitung, andaikata Anda/istri Anda diketahui usia kandungannya telah 3 bulan, berarti ada waktu 6 bulan lagi untuk menabung persiapan aqiqah. Kita

sisihkan anggaran rutin harian sebesar Rp 5.000 –setara uang jajan 2 anak SD- dan dimasukkan ke pos tabungan/celengan khusus.

Secara matematis, Rp 5.000 per hari itu akan menjadi Rp 150.000 dalam sebulan ( Rp 5.000 x 30 hari). Dengan asumsi kita menyisihkan Rp 5.000 per hari selama 6 bulan, maka di akhir bulan ke-9, jumlah dana tabungan aqiqah adalah sebesar Rp 150.000 x 6 bulan = 900.000 rupiah..!!. cukuplah untuk seekor kambing gemuk nan sehat seharga Rp 800.000 plus Rp 100.000 bisa digunakan untuk biaya memasak dan delivery-nya…:D

Bagaimana bila di awal diketahui anak Anda yang bakal lahir adalah laki-laki? Sebagaimana hadits: Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” [Shahih, Hadits Riwayat Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan]

Cukup kalikan sisihan dana tersebut dengan 2, jadi Rp 5.000 x 2 = Rp 10.000 per hari. Dengan demikian, jumlah yang didapatkan di akhir bulan ke-9 adalah Rp 900.000 x 2 = 1.800.000 ….rupiah. Wah….besar juga ya……jumlah yang mungkin bisa cukup membuat kening kita berkerut apabila dikeluarkan secara cash, setelah begitu banyak pengeluaran terutama untuk biaya persalinan dan perlengkapan bayi.

Terlihat simpel dan mudah bukan? Bagaimana menurut Anda?

Kuncinya memang kedisplinan diri kita.

Semoga bermanfaat.

Makasih akhi A.Rasyidin, Bu Agus, Ust. Yanto, akhi Ruly dan Mus’ab