Tag

, ,

artikel

Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Kembali kita dibuat terhenyak dengan berita jatuhnya pesawat TNI AU F-27 yang menewaskan 24 anak bangsa pilihan. Dan ini menjadi pelajaran kesekian kalinya bagi kita untuk selalu waspada terhadap segala kemungkinan yang menyebabkan kecelakaan dan kehilangan nyawa.

Bukan kebetulan kalau kita berurusan dengan kehendak Ilahi. Semua ini merupakan bukti betapa kuasanya Allah dan betapa tidak berdayanya kita.

Betapa kelirunya setiap ada peristiwa, sering kita dengar pernyataan  “disebabkan angin”, “cuaca yang tidak bersahabat” dan lain-lain. Seakan-akan alam ini yang salah, dan manusia selalu benar (?). Na’udzubillah….

Marilah kita introspeksi diri. Sedini mungkin sebelum ajal menjemput.

Berikut nama-nama Korban Tragedi Fokker 27 Berdasarkan data yang diperoleh dari Kepala Penerangan Pasukan Khas TNI Angkatan Udara, Mayor Nairiza, korban tragedi Fokker 27 yang jatuh di Landasan Udara Husein Sastranegara Bandung berjumlah 24 orang. Terdiri atas 17 pasukan khas dan enam kru pesawat dan seorang pelatih penerbang. Para korban sebagian sulit dikenali itu dibawa ke Rumah Sakit Salamun Bandung, sebelum diserahkan ke keuarga masing-masing. Di antara korban, Letnan Satu Yudho Pramono, adalah anak dari Pangila Komando Daerah Militer Iskandar Muda Aceh, Mayor Jenderal Sunarko. 1.Pilot Kapten Gde Agus Tirta Santosa 2.Co Pilot Letnan Satu Yudho Pramono 3.Letnan Dua Rahmat 4.Sersan Dadang 5.Sersan Dua Bahtiar 6. Sersan Dua Maskarebet 7. Letan Satu (pelatih) Basone 8. Letna Satu Wahyuni 9. Letnan Satu Dany Koto 10.Letnan Dua Riki 11. Prajurit Satu Didi 12. Prajurit Satu Teguh 13. Prajurit Satu Imran 14. Prajurit Satu Abdulkadir 15. Prajurit Satu Darmanto 16. Prajurit Dua Danang 17. Prajurit Dua Ibnu 18. Prajurit Dua Heru 19. Prajurit Dua Faisal 20. Pajurit Dua Erwin 21. Prajurit Dua Dedi 22. Prajurit Dua Riri 23. Prajurit Dua Ari 24. Prajurit Dua Danang. [*]

BANDUNG, KOMPAS.com — Sebuah pesawat Fokker 27 milik TNI AU meledak sesaat sebelum mendarat di Bandara Husein Sastranegara sekitar pukul 13.00. Ini disebabkan pesawat itu menabrak Gedung Divisi ACS (Aircraft Service) PT Dirgantara Indonesia. Bola api besar akibat ledakan ini membubung ke langit.

Mujiono, pegawai Nusantara Turbin Propulsi (NTP), anak perusahaan PTDI, mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar 10 menit setelah turun hujan besar. Saat itu ia berada di hanggar ujung landasan sebelah timur, kira-kira sekitar 200 meter dari gedung ACS.

“Pesawat datang dari arah timur hendak landing. Saya lihat posisinya sudah miring atau oleng. Lalu ia menghantam Gedung ACS dan langsung meledak. Bola api keluar, besar sekali,” tutur Mujiono saat dihubungi Tribun beberapa saat lalu.

Menurutdia, api terus menyala walau hujan turun sangat deras. Hujan baru reda sejam kemudian setelah kejadian. Ia mengaku belum mendapat informasi soal korban jiwa. (MAC)