Pada tangan…..bijaksanalah….

tribunnews.com

bersihkan tangan

Tangan kita adalah bagian tubuh yang paling dinamis, merupakan perpanjangan otak dan perasaan sebagai alat yang mengabdi namun juga sebagai juru bicaranya……..Maka pekerjaan tangan harusnya menunjuk pada kualitas, nilai ruhani yang bersifat pribadi, karena dituangkan langsung oleh fitrah insani…..

Dengan bijak kita gunakan telunjuk. Telunjuk akan tetap menjadi telunjuk, tidak menunjuk-nunjuk, ataupun ditunjuk-tunjuk…..

Akan datang hari, saat mulut dikunci….kata tak lagi ada…Akan tiba masa, tak ada suara dari mulut kita….Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya…..

Yaasiin : 65 “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah pada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”

Sebelum tiba masa itu, cukupkan bekal perbuatan tangan, lahirkan karya cemerlang, manfaat bagi insan sekitar. Bila sudah upaya diraih, tawakkal bekal terakhir…..

Ali Imran : 159 “…….bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”  [*]

Menghitung Tengah Malam dan Sepertiga Malam yang Akhir

Tag

, , , , ,

Pendahuluan:

Kita, dalam kehidupan sehari-hari sering mendengar istilah “Tengah Malam”. Di dalam Islam kita mengenal istilah “Sepertiga-Malam-Terakhir”. Istilah ini berhubungan dengan ibadah sholat qiyamul lail atau sholat tahajjud, yang disyariatkan. Nah, pada pukul berapakah tepatnya istilah-istilah tersebut berada? Apakah istilah pertengahan malam, bila ditinjau dari syariat Islam, ditunjukkan dengan angka 12 di jam kita? Kalau tidak, bagaimana pula cara menentukannya? Barangkali juga muncul pertanyaan, apakah waktu sepertiga-malam-terakhir itu ajeg setiap harinya, ataukah berubah-ubah, atau bagaimana? Penjelasan di bawah ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Insya Alloh mudah dan sederhana.

Bagaimana kita menentukan pertengahan malam:

Pertama-tama, kita tentukan dulu waktu tenggelamnya matahari dan waktu terbit fajar.

Kemudian kita hitung jarak waktu antara keduanya, hasilnya kita bagi dua. Lalu hasil pembagian tersebut kita tambahkan waktu tenggelamnya matahari. Maka hasil dari penambahan tersebut adalah waktu pertengahan malam.

Secara matematis digambarkan berikut ini:

Waktu Tengah Malam =

Wkt Tenggelam Matahari + [ (Wkt Terbit Fajar – Wkt Tenggelam Matahari) / 2 ]

Misalnya, jika waktu tenggelamnya matahari adalah pukul 18.00 dan waktu terbit fajar esok hari adalah pukul 05.00, maka jarak waktu antara keduanya setelah kita hitung adalah 11 jam. Waktu 11 jam ini kita bagi menjadi dua, maka hasilnya adalah 5 jam 30 menit. Kemudian hasil pembagian tersebut kita tambahkan kepada waktu matahari tenggelam, maka 18.00 + 5.30 = 23.30, maka jadilah waktu pertengahan malam adalah 23.30 (pukul setengah 12 malam, -zuh).

Bagaimana kita menentukan sepertiga malam yang akhir:

Kita cari dulu selisih perbedaan waktu antara waktu matahari tenggelam dengan waktu fajar terbit sebagaimana di atas. Lalu hasilnya kita bagi tiga.

Hasil pembagian tersebut kemudian dipakai untuk mengurangi waktu terbit fajar keesokan hari (dalam contoh ini waktu terbit pukul 05.00).

Jadi, pukul 05.00 – (11 jam / 3) = 05.00 – 3 jam 40 menit = pukul 01.20.

Maka permulaan sepertiga malam yang akhir adalah pada pukul 01.20 pagi (dini hari).

Waktu ini tidaklah tetap, akan tetapi akan berubah-ubah dari satu musim ke musim yang lain, tergantung waktu terbit fajar dan tenggelamnya matahari.

Keutamaan sholat pada sepertiga malam yang akhir.

Dari Abu Huroiroh, bahwa Rosululloh sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Robb kami tabarroka wa ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia (terendah), yaitu saat tertinggal sepertiga malam yang akhir. Dia berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepadaKu akan Kupenuhi, dan siapa yang meminta ampun kepada Ku akan Kuampuni.” (HR. Bukhori Muslim)

Disadur dari: Majalah Qiblati edisi 04 tahun III 01-2008/12-1428 dengan pengeditan seperlunya.

Sumber : http://zuhud.wordpress.com

Paku Penanda

Tag

, , , , ,

httpwww.123rf.comKisah yang sudah tidak asing lagi kita dengar. Menghargai dan menghormati seseorang yang sudah pernah menceritakan kisah ini, maka saya sampaikan kembali dalam blog ini, semoga menjadi amal shalih yang terus mengalir kepada beliau dan kita semua. Aamiin. Jazaakumullah Pa Rahmat…..

Alkisah ada seorang pemuda yang berperangai buruk, sangat di luar kebiasaan kebanyakan pemuda, selalu iri dan dengki bahkan tidak jarang tiap hari selalu membuat sakit hati tetangga dan sahabatnya.

Suatu hari, pemuda tersebut dipanggil oleh ayahnya dan dinasihati atas perbuatan-perbuatan buruknya, lalu sang ayah memberinya sebuah palu dan satu kantung berisi paku-paku.

“Nak.. mulai hari ini tugasmu menancapkan paku-paku ini di pintu kamarmu setiap kamu berbuat keburukan terhadap orang lain, satu paku untuk satu perbuatan buruk…” kata ayahnya.

Pada hari itu didapatinya seratus paku yang dia tancapkan di pintu kamarnya, lalu di hari kedua ada delapan puluhan paku yang dia tancapkan, dan semakin hari semakin berkurang paku yang dia tancapkan, akhirnya dia merasa lelah juga harus menancapkan paku di pintu kamarnya setiap dia melakukan hal buruk terhadap orang lain.

Kemudian dia memutuskan, bahwa mulai hari ini dia akan berusaha menjadi pemuda yang baik, sehingga dia tidak perlu lagi menancapkan paku-paku itu dipintu kamarnya.

Tibalah pada suatu hari, dimana dia sudah tidak perlu lagi menancapkan paku-paku itu, dengan bangganya dia menemui ayahnya, “Ayah… ikutlah denganku, lihatlah pintu kamarku itu, sekarang aku sudah tidak perlu lagi menancapkan paku-paku ini ke pintu kamarku..” kata pemuda itu sambil menyerahkan kantung yang berisi paku-paku yang masih tersisa.

Lalu ayahnya berkata, “Baiklah anakku, ayah akan merasa bangga bila Sekarang tugasmu adalah mencabut paku-paku yang tertancap dipintu itu, setiap kamu berbuat baik pada orang lain, satu paku untuk satu kebaikan…”

Mulailah pada hari itu sang pemuda mencabut paku tersebut setiap kali dia melakukan kebaikan kepada orang lain, dan tibalah pada suatu hari, sudah tidak ada lagi paku-paku yang harus dicabutnya, lalu diapun menemui lagi ayahnya,

“Ayah, kini sudah tidak ada lagi paku yang harus aku cabut di pintu kamarku itu.” dengan bangganya dia bercerita.

Lalu ayahnya mengajaknya untuk melihat pintu itu bersama-sama, “Anakku, sekarang perhatikan pintu kamarmu, walaupun sudah tidak berpaku, tapi masih meninggalkan lubang-lubang kecil dan parutan bekas paku-paku yang kau cabut, artinya walaupun engkau sudah minta maaf dan berbuat baik terhadap orang yang pernah kamu sakiti, dan mungkin orang tersebut menerima maafmu, tapi luka di hati mereka sangat sulit untuk dihilangkan, layaknya lubang bekas tancapan paku-paku di pintu kamarmu yang sudah tidak bisa pulih seperti sedia kala.” lanjut sang ayah.

Mengertilah sang pemuda, mengapa setiap orang yang pernah disakitinya sangat sulit memberikan maaf saat dia memintanya.

Hikmah : Kita harus selalu menjaga lisan dan perbuatan kita agar tidak menyakiti hati orang lain, istiqomah dalam akhlaq yang mulia adalah keutamaan dalam kehidupan kita, bukankah Rasulullah SAW diutus oleh Allah tak lain untuk menyempurnakan Akhlaq manusia. [*]

Kisah Tiga Pemuda Terjebak dalam Gua

Tag

, , , , ,

(ANTARA/Sigid Kurniawan)

(ANTARA/Sigid Kurniawan)

Dari Abu Abdur Rahman, iaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahawasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.

Seorang dari mereka itu berkata: “Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu – yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya.Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus- menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsinglah, Anak-anak kecil sama menangis kerana kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keredhaanMu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini.” Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.

Yang lain berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak dari bapak saudara yang wanita (sepupu wanita) yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia (dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita ) kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperolehi kesukaran. lapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku (maksudnya untuk bersetubuh).

Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat menguasai dirinya (dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya – sepupuku itu lalu berkata: “Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin ( maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini – melainkan dengan haknya – yakni dengan perkahwinan yang sah)  lalu saya pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.

Orang yang ketiga lalu berkata: “Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku.

Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. (Muttafaq ‘alaih)

Hikmah : Kita diperbolehkan bertawassul kepada Allah dengan kebaikan yang pernah kita perbuat.

____________________________________________
(Sumber:Hadist ‘Abdullah bin ‘Umar, riwayat Al-Bukhori No. 2102 dan Muslim No. 2743)

Menghormati Orang Tua

Tag

, , ,

Kutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

Hadirin jamaah Jum’at masjid Ar-Rahman yang berbahagia!
Pada kesempatan Jum’at ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah SWT. Betapa banyak rahamat dan kasih sayangnya sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita untuk menuju masjid Ar-Rahman ini yang insya Allah, niat karena Allah SWT. Solawat dan salam mari kita limpahkan kepada baginda Rasulullah saw, yang telah membawa agama Islam ini, sehingga kita dapat merasakannya.

Banyak di antara kita terkadang baik sengaja maupun tidak sengaja, berkata kepada kedua orang tua kita dengan kata-kata yang kasar.
Saat ini kita sering sekali menjumpai anak-anak, yang sering mengabaikan apa yang diperintahkan oleh orang tuan-nya. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Padahal jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, betapa besar pengorbanan orang tua kita (ibu), apa kita tidak sadar bahwa selama 9 bulan 10 hari, kita berada di rahim ibu kita dan menyapihnay selama 2 tahun. Beliau dengan sabar meskipun terkadang merasakan lelah, letih, tidak enak makan, bahkan sakait dsb. Seharusnya jika kita sebagai anak harus berbakti kepada orang tua kita dalam surat Luqman ayat 14, Allah SWT berfirman:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Luqman : 14)
Makna Ayat
Allah mewajibkan kepada semua manusia agar patuh dan taat kepada orang tua. Karena seorang ibu itu mengandung dengan segala kepayahan dan kesulitan. Seorang ibupun menyusui sampai berusia dua tahun. Allah mengharuskan pula agar bersyukur kepada-Nya atas semua nikmat yang diberikan dengan cara melakukan semua bentuk taat. Dan hendaknya berterima kasih pula kepada orang tua dengan cara melakukan kebaikan dan taat kepadanya. Karena semua akan kembali kepada Allah, dan Allah akan membalas semua perbuatan yang dilakukan manusia. Maka jangan sampai kita melakukan hal-hal yang tidak membuat kedua orang tua kita ridho, karena ridho orang tua adalah ridho orang tua.

Hadirin jamaah Jum’at masjid Ar-Rahman yang berbahagia!
Ada sebuah kisah seorang yang alim:
Tentang seorang alim yang begitu ingin sekali pergi menunaikan ibadah haji. Namun ibundanya tidak mengijinkan, dia tetap memaksa untuk pergi, walau tanpa restu sang ibunda. Setelah orang alim itu pergi, ibunya berusaha memanggil & mengejarnya. Namun dia tak mendengar panggilan ibundanya, karna jarak yg sudah terlalu jauh. Sang ibunda berkata dalam hati “dia telah memanas hatiku yg takut akan perpisahan”.

Setelah jauh berjalan dan hari mulai sore, sang alim berhenti di mesjid di suatu desa. Dia menjalan ibadah shalat maghrib dan dilanjutkan dengan hingga ibadah-ibadah malamnya. Pada saat yg bersamaan, di desa itu ada seorang pencuri yg mencoba masuk di salah satu rumah. Namun sang pemilik rumah memergokinya, dan berteriak “maling… maling….”.

Sang pencuri berlari dan mencari tempat persembunyian. Karna tidak menemukan tempat untuk dia bersembunyi, sang pencuri masuk ke halaman masjid dan bersembunyi di salah satu sudut halaman masjid.
Para pengejar mencari kesana kemari sayang sang pencuri tidak ditemukan. Mereka hanya melihat ada seorang asing yang sedang berdzikir di dalam masjid. Tanpa berpikir panjang, mereka menyeret sang alim itu keluar dari masjid dan memukulinya hingga babak belur. Teriakan meminta ampun dari sang alim tidak di dengar oleh warga desa itu.

Setelah sekian lama di pukuli, akhirnya warga desa berhenti memukuli sang alim dan mulai menginterogasi sang alim tersebut. Sang alim menceritakan siapa dirinya dan maksud dari perjalanan itu. Di antara para ibu warga desa tersebut ada yang merasa terharu, dan mengantarkan sang alim kembali pulang ke rumah ibundanya. Sesampainya di rumah, sang alim pun bersujud dan meminta maaf kepada sang ibundanya.

Hadirin jamaah Jum’at masjid Ar-Rahman yang berbahagia!
Inti dari cerita tersebut adalah; Setiap perbuatan kita hendaknya harus ada ridho oleh orang tua kita karena ridho otang tua adalah ridho Allah. Betapa banyak jeripayah beliau berdua yang telah membesarkan kita semuanya ini, tanpa menagih imbalan berapa banyak uang yang telah kita habiskan, berapa pakaian yang telah kita pakai, berapa ongkos untuk membersihkan kotoran kita dan sebagainya.

Bukan itu saja Allah juga telah melarang kita untuk berkata AH… tanpa tidak sadar ketika kita dipangil atau disuruh untuk membantu untuk membelikan sesuatu tanpa sadar kita mengatakan AH…… dalam al-qur’an surat Al-Isra ayat: 23, Allah SWT berfirman :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S: Al-Isra: 23)

Hadirin jamaah Jum’at masjid Ar-Rahman yang berbahagia!
Dari ayat di atas bahwa Allah SWT. Telah memerintahkan kita agar brbuat baik kepada kedua orang tua kita. Bahkan hanya mengatakan AH… kita dilarang untuk mengucapkannya. Bukan itu saja ketika orang tua kita sudah lanjut usia, kita diperintahkan untuk menjaganyadengan sebaik-baiknya. Ada perkataan Rasulullah bahwasanya surge itu berada di telapak kaki ibu kita. Mudah-mudahan kita di golongkan menjadi orang yang selslu diberi rahmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien Yaa Rabb..

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Kutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.

Hadirin jamaah Jum’at masjid Ar-Rahman yang berbahagia!
Dalam potongan surata Al-An’aam ayat 151 bahwa Allah SWT berfirman: “berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa” (Q.S: Al-An’aam: 151)
Inti dari ceramah khatib adalah, bahwasanya kita diperintahkan Allah SWT. Untuk berbuat baik kepada orang tua kita dan, melarang untuk menelantarkan orang tua kita, apalagi ketika beliau berdua sudah mencapai lanjut usia. Mudah-mudahan kutbah ini bisa menambah keimanan kita khususnya khotib, sebelum kita tutup mari kita berdoa. Mudah-mudahan apa yang kita dengar dan apa yang kita rasakan mendapat ridho Allah SWT. Amieen

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

By Taufiq Husnul Hajar