Tanamkan Ikhlas dan Hindarkan Riya’

Secara khusus, saya memohon kepada para mubaligh agar ikhlas dalam setiap ceramah, tulisan, dan amal perbuatannya. Allah memberi pahala yang besar terhadap amal shalih yang dilakukan dengan ikhlas, walaupun amalan itu ringan. Sebaliknya, amal shalih tanpa keikhlasan tidak akan berpengaruh di dunia dan tidak akan menghasilkan pahala di akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak memandang tubuhmu dan bentuk rupamu, tetapi Dia memandang hatimu.” (Muslim – At-Targhib).

Rasulullah saw. pernah ditanya mengenai arti iman, beliau menjawab, “Artinya ikhlas.” Di dalam kitab At-Targhib banyak ditulis riwayat tentang ikhlas, sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa ketika Mu’adz r.a. diutus ke Yaman sebagai hakim, ia meminta nasihat kepada Nabi saw.. Kemudian beliau bersabda, “Dalam setiap amalmu, jagalah keikhlasan, karena dengan keikhlasan, walaupun amal itu sedikit akan mencukupi.” Hadits lainnya menyebutkan, “Allah hanya akan menerima amal seorang hamba-Nya yang dilandasi dengan keikhlasan.” Sebuah hadits Qudsi menyebutkan:

“Akulah Yang Mahakaya dari seluruh sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang menyekutukan-Ku, akan Aku serahkan ia kepada sekutunya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku terlepas darinya, dan baginya apa yang ia lakukan.” (Muslim – Misykat).

Sebuah hadits menyebutkan, “Pada hari Kiamat akan terdengar pengumuman di padang Mahsyar, ‘Barangsiapa yang menyekutukan Allah dalam amalannya, hendaklah ia menuntut pahala dari sekutu itu, karena Allah tidak menghendaki satu sekutu pun bagi-Nya.’” Sebuah hadits lain menyebutkan:

“Barangsiapa shalat karena riya (ingin dilihat orang lain), sungguh ia telah syirik. Barangsiapa berpuasa karena riya, sungguh ia telah syirik. Dan barangsiapa bersedekah karena riya, sungguh ia pun telah syirik.” (Ahmad – Misykat).

Apabila seseorang beramal tanpa keikhlasan, yakni bukan untuk mencari ridha Allah tetapi berniat memamerkannya agar dihargai oleh manusia, secara tidak langsung ia telah menyekutukan Allah, sehingga seluruh amalnya tidak akan diterima oleh Allah swt.. Amal itu hanya akan sampai kepada orang yang ia harapkan pujian dan penghargaannya. Sebuah hadits berbunyi:

“Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili pada hari Kiamat adalah orang yang telah mati syahid, ia akan dihadapkan kepada Allah. Maka Allah memperlihatkan kenikmatan-Nya dan ia pun mengakui kenikmatan itu. Allah bertanya, “Apa yang kamu perbuat dengannya? Ia menjawab, “Aku berperang karena-Mu sehingga aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu dusta! Kamu berperang karena ingin disebut pahlawan, dan itu telah kamu dapatkan.” Maka diperintahkan agar orang itu diseret dengan dijungkir kemudian dicampakkan ke neraka. Kemudian seseorang yang belajar dan mengajar ilmu agama dan suka membaca Al-Quran dihadapkan kepada Allah, maka Allah memperlihatkan kenikmatan-Nya dan ia pun mengenal nikmat tersebut. Allah bertanya, “Apa yang kamu perbuat dengannya?” Jawabnya, “Aku belajar dan mengajar ilmu dan membaca Al-Quran karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta! Kamu belajar dan mengajar agar disebut ulama, dan kamu membaca Al-Quran agar disebut qari, dan itu telah kamu dapatkan.” Maka diperintahkan agar orang itu diseret dengan dijungkir lalu dicampakkan ke neraka. Dan terakhir adalah seseorang yang dikaruniai kekayaan oleh Allah. Maka Allah memperlihatkan kenikmatan-Nya dan ia pun mengenal kenikmatan itu. Lalu Allah bertanya, “Apa yang telah kamu perbuat dengan kekayaanmu itu?” Ia menjawab, “Aku tidak membiarkan satu jalan pun yang patut diberi infak kecuali aku infakkan hartaku karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta! Kamu berbuat demikian agar disebut dermawan dan kamu telah mendapatkannya!” Maka diperintahkan agar orang itu diseret dengan dijungkir lalu dicampakkan ke neraka.” (Muslim – Misykat).

Oleh sebab itu, sangat penting bagi para mubaligh agar selalu bertujuan mencari ridha Allah dalam menyampaikan kegiatannya dan dalam menyebarkan agama dengan mengikuti sunah Rasulullah saw.. Jangan sampai beramal untuk mencari ketenaran, mencari nama, atau agar dihargai orang lain. Jangan biarkan niat-niat tersebut ada di dalam hati kita. Jika terlintas dalam pikiran kita seperti itu, segeralah membaca, “Laa haula wala quwwata illa billah,” dan beristighfarlah sebagai upaya untuk memperbaiki diri kita.

Dengan kelembutan kasih sayang Allah, kebenaran Rasul-Nya, dan keberkahan Kalam-Nya, saya memohon semoga Allah memberikan taufik kepada saya dan para pembaca untuk dapat berbakti kepada agama-Nya sedaya upaya kita dengan ikhlas. Amin. Wallahu a’lam

Terima kasih untuk Mudzakahar Warga Jenggot

Pandai Merasakan dan Mendengar

Sering sekali dalam pergaulan terjadi kesalahpahaman antara seseorang dengan yang lainnya, yang akhirnya akan berlanjut pada permusuhan. Tidak jarang juga dapat menimbulkan perkelahian. Konflik. Ya sebuah konflik telah terjadi pada diri kita dengan orang lain.

Umumnya konflik terjadi karena sebuah ketidakmengertian akan perasaaan orang lain. Hingga membuat satu sama lain merasa dilecehkan. Tapi, sebenarnya di balik semua masalah ini ada beberapa pelajaran yang menarik untuk kita.

Sebenarnya, untuk dapat menjaga perasaan orang lain butuh keterampilan dan kebiasaan. Bukankah kita sendiri memiliki perasaan, dan begitu juga dengan orang lain. Memang seringkali kita melupakan bahwa teman kita juga mempunyai perasaan seperti kita. Dan kita kadang juga lupa bahwa kesabaran seseorang itu ada batasnya. Kita semua tahu rambut boleh sama hitam tetapi hati setiap orang berbeda. Masalahnya sekarang adalah apa yang kita anggap baik untuk kita lakukan belum tentu baik pula untuk orang lain. Di sini lah sebenarnya apa yang kita sebut dengan perasaan itu berperan.

Maka kita harus menjaga perasaan orang lain dalam bergaul supaya mereka tidak tersinggung dan lain sebagainya. Menjaga perasaan sesama kita agar ada tenggang rasa dalam batas-batas kewajaran. Sebab kalau tidak, ketegangan, pertentangan, dan konflik akan selalu timbul di sekitar kita. Nah, untuk menjaga persaan orang lain di lingkungan pergaulan kita, marilah kita urai menjadi beberapa item :

  1. Anggaplah teman itu seperti diri kita sendiri, memiliki hati nurani dan perasaaan yang sama seperti yang kita miliki.
  2. Pikirkanlah lebih jauh ke depan akibat dari sesuatu yang kita lakukan.
  3. Mulailah belajar memahami dan mengenali sifat masing-masing, hingga kita dapat menyesuaikan diri satu sama lain.

Dengan begitu kita jadi bisa memperluas pergaulan dengan siapa saja dan sekaligus terhindar dari pertentangan dan konflik yang sebenarnya tidak kita inginkan bersama.

Pandai menempatkan perasaan akan semakin lengkap bila kita juga memiliki kepandaian dalam hal mendengar. Seringkali konflik terjadi karena kita tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara, sehingga kesempatan untuk mendengarpun menjadi tertutup.

Beberapa hal berikut ini mudah-mudahan cukup membantu :

Ciri bahwa diri kita sebagai pendengar yang baik:

  1. Memandang lawan bicara.
  2. Bertanya untuk menegaskan pertanyan penting lawan.
  3. Bertanya perasaan dan keadaan lawan.
  4. Ulangi sedikit kata-kata yang dibicarakan.
  5. Berprasangka baik.
  6. Dengan cepat mengikuti pembicaraan.
  7. Memperhatikan, tenang dan emosi terkendali.
  8. Tidak memotong pembicaraan.
  9. Tidak mengubah pokok pembicaraan yang belum selesai.

Sedangkan ciri bahwa diri kita perlu memperbaiki diri dalam mendengar adalah :

  1. Selalu mengganggu pembicaraan.
  2. Melompat ke soal lain yang tidak anyambung.
  3. Memotong pembicaraan.
  4. Mata mencurigakan dan penampilan buruk.
  5. Tidak dapat mengambil intisarinya.
  6. Tidak ada reaksi kala ditanya.
  7. Tidak bergairah.
  8. Tidak berkharisma.

Untuk menegaskan kemampuan dan daya tangkap baik, maka tanyakan kepada diri kita :

  1. Apakah saya telah menjadi pendengar yang baik ?
  2. Apa saya sudah mampu berkomunikasi ? Maukah mereka mengutarakan masalahnya kepada saya ?
  3. Maukah saya mendengar dan memberi mereka kesempatan bicara ?
  4. Adakah perasaan puas ketika saya dapat mengerti keadaan orang lain?

Selamat bersahabat…..

Belajar Al-Qur’an Semakin Mudah

Alhamdulillah, akhirnya aplikasi Al-Quran virtual dalam format flash telah hadir. Semoga bagi kita seorang muslim tidak ada lagi alasan untuk tidak ada waktu membaca Al-Qur’an.

Aplikasi Al-Qur’an ini dapat dibuka secara online yang dapat diakses di sini, maupun offline dengan cara download di sini.

Selamat membaca Al-Qur’an…….

Sumber : www.quranflash.com

Komunikasi itu Memang Penting

Sebagai mahluk sosial yang selalu berinteraksi satu dengan yang lain, komunikasi atau proses penyampaian pesan menjadi hal yang tak terbantahkan. Komunikasi tidak hanya dilakukan secara verbal yaitu dengan ucapan kata-kata secara langsung, namun juga secara non-verbal yang menyangkut gerak-gerik tubuh, gestur, penampilan afeksi dan lain sebagainya. Tentu saja dalam komunitas atau masyarakat yang luas, kita akan menghadapi banyak benturan akibat dinamika sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu dalam berkomunikasi, kita tak boleh hanya terpaku pada metode verbal saja namun metode non-verbal wajib diperhatikan karena satu dengan yang lain merupakan komplemen.

Di dalam komunikasi diperlukan adanya 5 hal, yaitu:

Intensi
Intetnsi adalah niat. Di dalam intensi inilah visi misi kita berkomunikasi berada, pada saat itu Kita harus merumuskan visi dan misi terlebih dahulu agar komunkasi kita bisa efektif.

Atensi
Adala mencari segala sesuatu yang dapat menarik perhatian komunikan/lawan bicara/penerima pesan kita. Upaya ini kita lakukan agar komunikasi sampai pada pesan yang akan disampaikan.

Retensi
Melakukan upaya agar lawan bicara kita menjadi ingat apa yang kita sampaikan.

Persepsi
Upaya kita agar bisa membangun tanggapan atau penerimaan yang sama dan sejalan antara kita dan penerima pesan.

Partisipasi
Dari semua tahapan komunikasi yang kita lakukan, maka kita akan mendapatkan peran serta komunikan seperti pesan yang kita inginkan.

Sikap dalam berkomunikasi

Menurut saya pribadi komunikasi yang efektif tidak terlepas dari  sikap, tindakan dan perkataan kita yang sangat menentukan hasil. Komunikasi akan berdampak menyenangkan apabila sikap,tindakan dan perkataan kita baik kepada lawan bicara dan begitu juga sebaliknya. Dari komunikasi yang baik, kita mendapatkan kebahagiaan, ketentraman bahkan mendapatkan apa yang kita inginkan, begitu juga dengan komunikasi yang buruk,  hasilnya juga pasti kegelisahan, kekhawatiran dan akan jauh dengan apa yang kita inginkan. Untuk menghindari dampak negatif dari komunikasi, hal-hal berikut perlu dilakukan :

  1. Sabar, tidak egois, selalu mengontrol emosi dan sabar.
  2. Jadilah pendengar yang baik, perhatikan dan tanggapi dengan baik setiap lawan bicara  berkomunikasi dengan kita.
  3. Jangan pernah memotong pembicaraan komunikan.
  4. Jangan terlalu banyak bicara,  untuk menghindari kebosanan komunikan.
  5. Berikan apresiasi dan pujian kepada setiap orang yang berkomunikasi dengan kita.
  6. Fahami apa yang sedang dibahas dalam berkomunikasi. Jangan lola alias loading lama (kagak nyambung kata anak jaman sekarang).
  7. Sebagai orang Indonesia, junnjung tinggi keram-tamahan setiap kita berkomunikasi…….. Selamat berkomunikasi. Semoga manfaat.

Kisah Qurban Bu Sumi

Berawal dari email sahabat Uus di inbox, semoga posting ini menjadi motivasi buat kita semua……..

Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang, namun setiap ingin memasuki I’dul Adha saya selalu teringat dengan kejadian yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah melupakannya.

Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor laku terjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorang teman mengajak saya untuk sholat ashar dan saya pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat kami berjualan. Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.

Baca selebihnya »

Jadilah Seperti Pensil…..

Seorang anak bertanya kepada bundanya yang sedang menulis di atas secarik kertas.

“Bunda lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”

Mendengar pertanyaan putrinya, sang bunda berhenti menulis dan berkata
kepadnya, “Sebenarnya bunda sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang bunda pakai.”

“ Bunda harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar bunda lagi.

Mendengar jawab ini, si putri kemudian melihat pensilnya dan bertanya
kembali kepada bundanya ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang bunda pakai.

“Tapi bunda,  sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar putri.

Bunda kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.”

“Pensil ini mempunyai 5 keistimewaan yang bisa kamu ambil hikmah darinya sehingga membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”

Bunda kemudian menjelaskan 5 keistimewaan dari sebuah pensil.

“Pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya” .

“Kedua, dalam proses menulis, bunda kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

“Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

“Keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

“Kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.

Sumber: Email Kawan Lama

Khasiat Sirsak, Kelapa Ijo dan Jambu Biji

Berawal dari pertemuan dengan kawan lama yang saat ini sedang menderita kanker nasofaring, banyak cerita didapat terutama nasehat yang berguna. Saat ini saya ingin berbagi sekelumit nasehat tentang khasiat beberapa anugerah Allah berupa buah-buahan yang ada di sekitar kita. Insya Allah pada kesempatan lain saya ingin berbagi tentang mengenal kanker nasofaring.

Buah dan Daun Sirsak

Sirsak (graviola) dikenal juga sebagai nangka sabrang, nangka londo, nangka buris, srikaya Jawa, dan di Jawa barat dikenal dengan nama manalika, dipercaya sangat ampuh menyembuhkan kanker. Selain menyembuhkan kanker buah sirsak juga berfungsi sebagai antibakteri antijamur (fungi) efektif melawan berbagai jenis parasit/cacing menurunkan tekanan darah tinggi depresi stres dan menormalkan kembali sistem syaraf yg kurang baik.

Baca selebihnya »

Musibah dan Cobaan

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!
Pada kesempatan Jum’at ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah dalam surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ankabut ayat 10:

Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”? Baca selebihnya »

Berhijrah di Jalan Allah

Innal hamda lillah nahmaduhu wa nastainuhu wa nastaghfiruh wa  nauudzubillahi minsururi anfusina wamin saiyiaati a’malina man yahdillahu falaa mudhillalah wa man yudhlihu falaa hadialah. Qalallahu taala fiel qur’anilkarim: Yaa ayyuhalladziina amanuttaqullah haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Amma ba’du

Ushikum waiyaya bi taqwallah ……. Faqat faazal muttaqun haisu yaquulu tabarakaallahu azza wajalla: Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha qaulan shadida yuslih lakum a’maalakun wayaghfirlakum dhunuubakum waman yuthillaaha wa rasuulakum faqat faaza fauzan adhimaa.

Sidang jum’at yang dirahmati oleh Allah subhanahu wathaala
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah  yang sampai detik ini  Allah masih menunjukkan, menggerakkan hati dan kaki kita melangkah ke masjid ini untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu Sholat Jum’at di saat orang kebanyakan masih sibuk dengan aktivitas dunia mereka.

Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasullah saw yang telah memperjuangkan Islam ini sampai titik darah penghabisan. Allahu Akbar.

Baca selebihnya »

Anjing dan Bayangannya….

Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.

Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.

Sangatlah bodoh memiliki sifat yang serakah

http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Anjing-dan-Bayangannya-60

Mutiara Hadits

عن النواس بن سمعان رضي الله عنه عن النبي قال: البر حسن الخلق. والإثم ما حاك في نفسك وآرهت أن یطلع عليه الناس . رواه مسلم. وعن وابصة بن معبد رضي الله عنه رضي الله عنه  قال: أتيت رسول الله فقال: جئت تسأل عن البر؟ قلت: نعم. قال: استفت قلبك البر ما اطمأنت إليه النفس واطمأن إليه القلب، والإثم ما حاك في النفس وتردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك.
حدیث حسن رویناه مي مسندي الإمامين؛ أحمد بن حنبل والدارمي بإسناد حسن

Dari al-Nawwas ibn Sam’aan r.a. dari Nabi SAW bersabda:
Kebajikan itu ialah keelokan budi pekerti dan dosa itu ialah apa yang tergetar dalam dirimu dan engkau benci orang lain mengetahuinya. Hadis riwayat al-lmam Muslim. Dan dari Waabisoh ibn Ma’bad r.a. beliau berkata: Aku telah menemui Rasulullah SAW lalu Beliau bersabda: Engkau datang ingin bertanya tentang kebajikan? Aku berkata: Ya. Beliau bersabda: Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu ialah suatu hal yang diri dan hati merasa tenteram terhadapnya, dan dosa itu adalah suatu hal yang tergetar dalam dirimu dan ragu-agak di hati, sekalipun ada orang yang memberikan fatwa kepadamu dan mereka memberikan fatwa kepadamu.
Hadis Hasan riwayat al-lmam Ahmad dan al-Daarimie dengan isnad yang baik.

Pelajaran hadis:

(1) Kebajikan atau kebaikan adalah hal yang hati seorang mukmin merasa tenang dan baik, sedangkan kejahatan atau dosa adalah apa yang hatinya merasa berkeluh kesah, gemetar dan merasa takut kalau-kalau diketahui oleh manusia. Seorang mukmin, dengan firasat hatinya dapat menduga baik buruk sesuatu. Walau apapun pandangan orang lain, dia lebih berhak membuat pendirian berdasarkan iman dan firasatnya. Namun perasaan dan firasatnya itu tidak dapat menjadi hukum syara atau fatwa yang memastikan orang lain mengikutinya. la hanya dapat digunakan untuk dirinya sendiri. Kebaikan atau kebajikan yang diberikan kelonggaran untuk kita meminta fatwa hati adalah kebajikan yang masih ada kesamaran, adapun yang memang sudah ada nash yang jelas, maka ia harus dianggap kebaikan biarpun hati berat menerimanya. Demikian juga keburukan yang sudah ada nash yang jelas, tidak boleh dipertentangkan atau ditakwil lagi berdasarkan perasaan dan firasat hati.

Perasaan hati hanya dapat dipakai apabila sejalan dan tidak bertentangan dengan metode hukum syari’at. Wallahu a’lam….[*]

Hikmah Dibalik Usia Satu Tahun

Alhamdulillah, satu tahun sudah dilalui si bungsu Hikma. Saat ini lagi senang-senangnya dia belajar berdiri. Berdiri, sebuah proses yang melibatkan seluruh tubuh, jatuh lalu kembali berdiri.Kagumnya saya sebagai ayah adalah, dia tidak ada kesan menyerah. Apalagi di saat baru bisa bangkit dari duduknya, sekali mencoba berdiri, berkali-kali dia harus terjatuh. Kadang tertawa terbahak-bahak, kadang juga menangis menahan sakit karena benturan.

Setelah banyak berlatih akhirnya dia mengerti bagaimana keseimbangan dirinya, sebuah persyaratan untuk kejenjang berikutnya. Terlihat sangat menikmatinya dan seolah-olah punya kekuatan baru, punya motivasi baru. Dia akan berdiri dimana saja dia suka – di tempat tidur, di sofa, di pangkuan Umminya, saya, atau pun seseorang. Itu adalah waktu yang menggembirakan – Anakku melakukannya!

Sekarang, dia sudah dapat mengontrol dirinya. Dia tersenyum dan tertawa lucu, puas akan keberhasilannya.  Sekarang – langkah berikutnya – berjalan yang ternyata lebih kompleks daripada yang dia bayangkan. Dia berurusan dengan rasa frustasi. Tapi terus mencoba, mencoba lagi dan mencoba lagi dan lagi sampai dia tahu bagaimana berjalan. Terkadang dia terlihat selalu ingin tangan orang lain menjadi pegangan saat berjalan.

Jika saya dan Umminya melihat dia berjalan, kami beri dia tepuk tangan, tertawa, sambil memberi semangat, “Subhanallah, lihatlah apa yang dia lakukan”. “Oh anakku sudah bisa berdiri”. “pandainya anakku, pintarnya anakku” dan lain-lain. Dorongan ini memicu dia; dorongan itu menambah rasa percaya dirinya. Dorongan menjadi motivasi baginya.

Masya Allah, hebat, luar biasa dan mengagumkan. kata-kata itulah yang bisa keluar dari lisan ini. Ketia Allah memberikan sikap berani tanpa rasa takut kepada seorang anak.

Hikmahnya buat kita para orang dewasa, harus selalu belajar pada perjalanan hidup seorang anak balita. Memang, kita bisa melakukan apapun yang kita pikiran. Kita mampu mengatur jika kita mau dan bersedia melewati setiap proses kehidupan. Tapi kenyataannya, masih sering kita –terutama saya tentunya– menunggu orang lain untuk memotivasi kita. Mengapa bukannya kita yang memotivasi diri kita sendiri ?

Marilah kita ihat buah hati kita. Mereka tidak pernah menyerah. Dan mereka yakin serta percaya terhadap kemampuan dirinya. Begitupun kita , bahwa kita mampu dan bisa.  Sekarang saatnya kita  harus percaya pada diri  kita sendiri. Yakinkan bahwa kita pasti bisa.

Terima kasih ya Allah, engkau berikan pelajaran terbaik dari Anakku Hikma. Hari ini adalah hari terbaik dalam hidup kami. Kami bertekad akan meraih masa depan yang indah, dengan membuat perubahan pada hari ini! [*]

Sisihkan Waktu Buat Sesama…

Bercermin pada perangai Rasulullah SAW, akan membawa kita pada rasa kasih pada sesama. Tauladan mulia dari seorang Rasul pilihan;

Meluap rasa sayangnya pada anak – anak. Tak pernah ia lewati mereka tanpa tegur sapa penuh suka cita. Ia bermain–main bersama, memeluk, menciumi, membelai dan menggendong mereka.

Tak dipunyai sedikitpun rasa takut, tidak juga kepada seseorang raja karena kerajaannya. Ia seru siapa saja, masing–masing dengan seruan yang sama.

Tidak pernah ia pukul seseorang dengan tangannya, kecuali ia belai dengan rasa kasihnya. Tiada sekali–kali ia menaruh dendam atas aniaya yang pernah diperbuat orang atasnya.

Ia jauh dari kemarahan, dan paling mudah rela. Sikapnya terhadap musuhnya yang paling besar ditandai oleh belas kasih dan kesabaran yang mulia. Ia keras dan sangat–sangat tegas terhadap setiap musuh Negara. Tapi ejekan, hinaan, kekerasan, dan penganiayaan terhadap dirinya sendiri,  semuanya dilupakan, bahkan penjahat yang paling besar pun diampuninya.

Tentang keberaniannya, sahabat utamanya menggambarkan : “ Kami sering berlindung dibalik dirinya yang mulia. Tidak ada prajurit yang lebih dekat kepada musuh daripada dia. Hanya para pemberani saja yang dekat padanya.

Tiada sekali–kali ia memilih diantara dua urusan, melainkan ia pilih yang halal dan termudah. Hatinya senantiasa terbuka bagi kesedihan dan penderitaan orang yang lemah dan tidak berdaya. Beliau manusia yang paling penyayang, manusia yang paling banyak mendatangkan rahmat bagi sesamanya.

Salaamun ‘alaika yaa Rasulullah……[*]

Tembang Para Pemalas…

myopera

Seringkali kita mendengar orang –juga kita barangkali– yang menyukai kata NANTI, akibatnya harapan-harapannya selalau sangat jauh. Apabila kita meminta sesuatu kepadanya atau menunjukkan suatu pekerjaan dan menyerukan kebaikan kepadanya, jawabannya, “Nanti.” Itu adalah kata kemalasan, penyesalan dan kerugian. Jika kita katakan kepadanya, “Mulailah menghafal Al-Qur’an.” Maka jawabannya, “Nanti aku menghafalnya. Sekarang ada urusan yang harus aku selesaikan”. Seolah-olah zaman menjamin keabadian baginya, seakan-akan malam berjanji memberikan kekekalan kepadanya.

Kawan, marilah kita  mulai melatih diri untuk tidak suka menunda-nunda pekerjaan dengan kata NANTI dan menggantungkan lamunan padanya, Bila itu terjadi, maka kita dalam bahaya. Kata NANTI hanyalah slogan milik orang-orang yang bangkrut, mottonya para pecundang, tembangnya para pemalas dan dalihnya para penganggur. Allah SWT berfirman, “Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka.” (QS. At-Taubah : 46).

Tepiskan kesangsian, bangkitkan motivasi diri, nyalakan api semagat juang, insya Allah SUKSES menjadi HAK kita…… [*]

Enam Pemberian Terbaik…

Ahnaf bin Qais, seorang pemuda cacat dan pincang kakinya, dia adalah seorang tokoh sastra yang luar biasa karyanya dan sangat besar pengaruhnya di masyarakat Arab. Imam Hasan Al Bashri rahimullah mengatakan ” Aku tak pernah melihat seorang yang dimuliakan dari suatu kaum, melebihi mereka memuliakan Ahnaf bin Qais. Bila Ahnaf murka terhadap sesuatu, maka akan turut murka ratusan ribu orang tanpa perlu bertanya apa alasan kemurkaannya itu. Ahnaf bin Qais juga adalah seorang khatib, orator, bijak dan pandai.

Suatu saat beliau ditanya tentang pemberian apa yang terbaik yang diberikan pada seorang hamba ? Beliau menjelaskan tentang pemberian terbaik :

1. Akal gharizi, yakni tabi’at. Rasulullah saw bersabda : Usaha manusia tidak seperti usaha akal, akal memberikan petunjuk-petunjuk kepada orang yang ditempatinya atau menolak dari yang buruk.

2. Budi pekeri yang baik, yakni melakukan sesuatu yang dapat menjaga dari segala kemaksiatan (dosa).

3. Teman yang menolong. Nabi saw bersabda : Pokok akal setelah iman adalah akrab dengan manusia, seseorang tidak akan lepas dari pentingnya meusyawarah dan sesungguhnya ahli kebaikan di dunia mereka ahli kebaikan di akhirat. Dan ahli munkar di dunia mereka ahli munkar di akhirat. (HR. Baihaqi)

4. Hati yang tabah, yakni hati yang sabar terhadap penghinaan orang lain. Diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda : Seandainya seorang mukmin ada di atas bambu terapung di alaut, niscaya Allah mendatangkan orang yang menyakitinya. (HR. Ibnu Abi Saibah)

5. Diam yang lama. Nabi bersabda : Seorang hamba tidak akan sampai kepada hakikat iman sehingga menahan lidahnya. (HR Thabrani).

6. Mati dengan khusnul khatimah, yakni kematian saat diri dalam ibadah dan istighfar.

Selamat berjuang kawan dalam meniti kehidupan yang penuh berkah dari Allah SWT. [...]

Sedih, Sedih dan Sedih…

spoiledchildren

Al-Mawardi menuturkan perkataan Hippocrates, dokter Yunani, “Jika Anda bersedih karena kehilangan sesuatu, jangan teruskan kesedihan itu, melainkan anggap saja ia kaca yang pecah yang takkan bisa kembali utuh. Yang lalu biarlah berlalu.”

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa mengingat-ingat masa lalu yang tragis hanyalah akan menimbulkan kekecewaan, penyesalan dan kesediahan. Firman Allah, “Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid : 23). Supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu.” (QS. Ali Imran : 153) . “Karena yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan di dalam hati mereka.” (QS. Ali Imran : 156)

Alangkah baiknya bila kita berdo’a untuk menghilangkan kesedihan :

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”
Kata Abu Umamah: ”Setelah membaca do’a tersebut, Allah ta’aala berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.” (HR Abu Dawud 4/353). [*]

Dimanakah kita tinggal selama ini ?

Seekor belalang lama terkurung dalam satu kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan belalang lain, namun dia heran mengapa belalang itu bisa lompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran dia bertanya,

“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku,padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?” Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan,

“Dimanakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.”

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Sering kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman,tradisi, dan semua itu membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.

Sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dgn tali yang terikat pada pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kaki nya, padahal “sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil…

Sebagai manusia kita mampu untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin kita capai. Sakit memang, lelah memang,tapi jika kita sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan kita akan lebih baik kalau kita hidup dengan cara hidup pilihan kita sendiri, bukan dengan cara yang di pilihkan orang lain untuk kita.

Kuliah Apa Cari Kerja ?

Pernah menyaksikan iklan layanan masyarakat tentang SMK dari Departeman Pendidikan Nasional yang tag-nya seperti ini :

“Pilihlah sekolah menengah kejuruan agar cepat mendapat pekerjaan setelah lulus.” dan “SMK Bisa”

Dengan menghadirkan seorang pengusaha sukses sekelas Subronto Laras dll, yang diharapkan semakin menambah bobot pesan yang disampaikan. Ya anggap saja maunya iklan ini begini : “Tuh Subronto Laras saja merekomendasikan anda jangan ragu-ragu masuk SMK, so kenapa tidak!”

Iklan itu mengajak generasi muda usia sekolah menengah memilih sekolah menengah kejuruan ketimbang sekolah menengah umum. Iming-imingnya jelas: kemudahan mendapat pekerjaan. Sebab, menurut nalar pemasang iklan itu, lulusan sekolah kejuruan memiliki keahlian teknis yang dapat langsung diterapkan, dan tak perlu meneruskan ke pendidikan tinggi setingkat akademi atau universitas.

Ada yang berlebihan dalam iklan tersebut, alih-alih ingin menunjukkan kalau SMK bukan nomor dua dibandingkan SMU, iklan tersebut menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan fasilitas pendidikan tinggi yang berbiaya rendah. Artinya pemerintah mendorong tunas-tunas bangsa tidak meneruskan pendidikan tinggi formal. Selnjutnya, iklan tersebut menyatakan dengan tegas bahwa pemerintah lemah dalam menyediakan lapangan kerja yang layak bagi lulusan pendidikan tinggi.

Opini seperti ini layak diketengahkan, mengingat maraknya demo mahasiswa terhadap perubahan kebijakan pemerintah buat perguruan tinggi entah negeri atau swasta untuk otonom dalam pembiayaan, yang berdampak pada peningkatan biaya kuliah. Pikiran entengnya kuliah dengan biaya selangit, atau mendingan kerja dapat duit ?

NASIHAT GURU BANGSA :

ing ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan
ing madyo mangun karso — di tengah membangun karya
tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan

Itulah tiga kalimat dari ajaran seorang ningrat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Pelopor Perguruan Taman Siswa ini kemudian diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional dan hari lahirnya 2 Mei (1889) diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah pada tahun 1959 [...]

BANGKITLAH !

Banktilah Indonesiaku !

Ketahuilah kawan bahwa zaman tidak akan menuggu kita, sejarah tidak akan memberikan penghormatan kepada kita yang suka menunda-nunda. Perhatikan, bahwa tidak sedikit orang yang lalai dan santai, yang berleha-leha di tempat dan waktu berlalu hingga setahun, ternyata mereka masih tetap seperti sediakala, bahkan boleh jadi lebih parah pengetahuannya, ibadahnya, kedalaman ilmunya dan aktivitasnya.

Mereka selalu memiliki dalih untuk tidak mengejar prestasi yang tinggi, selalu memiliki alasan untuk membela diri jika ada orang yang mencela kelambanan dan kemalasan mereka. Selalu ada dalih bagi mereka, seperti alasan para pendahulu mereka, “Harta dan keluarga kami menyibukkan kami.” (QS. Al-Fath [48] : 11). Seolah-olah orang lain yang penuh kreasi dan prestasi tidak memiliki keluarga dan harta. Dalih mereka itu lemah, sehingga tidak diterima Allah dan manusia.

Bukankah orang-orang yang telah berusaha meraih pengetahuan, berjuang mengejar kemuliaan tidak tertidur di malam hari dan dahaga di siang-siang yang panas juga memiliki dalih berupa kesedihan yang mencekam, kelaparan, kehausan, kedinginan  namun demikian mereka tetap berjuang, bertahan dan sabar sampai mereka mencapai tujuan lalu beristirahat.

Semoga kita diberi kekuatan untuk terus bertahan dalam perjuangan, maka BANGKITLAH ! [*]

Memahami Tema-tema QS. Al-Fatihah

Al-Fatihah

Ada beberapa tema utama di dalam surat Al-Fatihah, yakni pujian, kasih sayang, kerajaan dan memohon bantuan.

Pujian : Sanjungan terhadap Sang Perkasa, penghargaan atas segala kebaikan-Nya dan pernyataan terima kasih atas karunia-Nya yang tiada tara.

Kasih sayang : Kelembutan-Nya kepada semua hamba, karunia-Nya yang berupa kebahagiaan bagi mereka, pemaafan bagi mereka walaupun mereka sering melakukan kerusakan, rezeki untuk mereka walaupun mereka sering melawan.

Kerajaan : Ketunggalan dalam keperkasaan, keluhuran martabat, keunggulan dalam segala urusan dan tertawannya semua makhluk dalam genggaman-Nya.

Ibadah ; Adalah ketundukan terhadap sifat rububiyah Allah, penunggalan-Nya sebagai pemilik sifat uluhiyah, pelaksanaan hukum-hukum syari’at-Nya dan pemenuhan kewajiban pengabdian kepada-Nya.

Permohonana bantuan : perasaan cukup dengan bantuan Allah saja, permintaan akan pertolongan dan dukungan-nya, keyakinan bahwa semua kebaikan ada di sisi-Nya dan pengetahuan bahwa hamba membutuhkan-nya sedangkan Dia tidak membutuhkan hamba.

Hidayah : pengetahuan tentang wahyu dengan menggunakan akal dan mengikuti bimbingan Rasul, perjalanan ke arah-Nya dengan jujur, peribadatan dengan keyakinan, peninggalan semua jalan selain jalan ke arah-nya dan keyakinan bahwaorang-orang yang menyimpang dari-nyaakan binasa.

Yang mendapatkan nikmat : Makhluk-makhluk pilihan yang menempuh jalan menuju Allah dengan baik, datang dengan kepatuhan yang sejati, dan melaksanakan kebaikan dengan penuh keyakinan.

Yang mendapat murka : Orang-orang yang mencari ilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, orang-orang yang tahu tapi melakukan kebodohan dan orang-orang melihat hidaya tapimtetap berpaling dari Allah, yaitu orang-orang yang menganggap bahwa pengetahuan letaknya di dalam kepala dan syari’at letaknya di lidah bukan di hati.

Yang tersesat : Orang-orang yang beribadah dalam kebodohan, sungguh-sungguh bekerja dalam kesesatan, membuat bid’ah tanpa dalil, bertindak sembrono dan banyak beribadah kepada SangRahman tanpa dasar bukti yang nyata…….[*]

Lepaskanlah “Rasa Tidak Enak”….

Teman , saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan – hutan Afrika .

Caranya begitu unik . Sebab , tehnik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu banyak, sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika .

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet – monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah menyisakan mulut toples dibiarkan toples tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya , mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak didalam botol tak bias dikeluarkan. Kok,bias? Tentu kita sudah tau jawabnya.

Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang – kacang yang ada di dalam toples . Tapi karena menggenggam kacang , monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.

Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat Jadi, monyet – monyet itu tidak akan dapat pergi kemana-mana !

Teman, kita mungkin akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.. Tapi,tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sedang menertawa kan diri sendiri. Ya

Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada didalam dada. Kita tak pernah bias melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Teman, sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggamman tangannya. Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua “ rasa tidak enak “ terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapi dengan senyum .

Terima kasih Bang Ekaputra

Jakarta (Tanjung Priok) Berkobar

Tanjung Priok Membara

Kemarin (14/04/10), peristiwa pertikaian paling memilukan terjadi di kawasan Tanjung Priok. Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja dan warga berperang dari pagi sampai sore dengan keganasan dan kebencian yang mengerikan. Puluhan orang terluka dan banyak kendaraan Satpol Pamong Praja dibakar massa. Kerusuhan malah meluas sampai ke Rumah Sakit Koja.

Pemicunya, persinggungan dengan keyakinan agama, yang dipicu perlawanan warga kepada ribuan anggota Satpol Pamong Praja yang hendak memasuki kompleks makam Mbah Priok yang selama ini diyakini keramat. Kompleks itu berada dalam lahan milik PT Pelindo II. Mbah Priok adalah nama lain dari Habib Hassan bin Muhamad al Hadad, penyiar Islam dari Sumatra yang pertama kali menamakan kawasan di utara Jakarta itu sebagai Tanjung Priok.

Pertikaian di Tanjung Priok kemarin menjadi tontonan. Itulah perang yang terjadi pada masa yang katanya demokrasi dan kebebasan. Publik menyaksikan betapa negara,dengan segala kelengkapan dan kewenangan, ternyata “tidak mencintai” rakyatnya.

Di sisi yang lain, publik pun bisa menyaksikan betapa warga negara telah memiliki keberingasan yang mengerikan juga. Mereka bisa memamerkan senjata tajam dan segala peralatan perang yang mungkin dipergunakan sebagai senjata, termasuk meledakkan bom molotov.

Apa yang menyebabkan negara dan rakyatnya sendiri terlibat pertarungan berdarah yang mengerikan layaknya seperti musuh di medan perang?

Ini semuanya terjadi karena beberapa sebab. Pertama, tidak terlihat peningkatan yang sungguh-sungguh pada komitmen negara mencintai rakyatnya. Negara, bila terjadi konflik kepentingan dengan warga, lebih cenderung memperlakukan rakyat sebagai musuh yang harus disingkirkan.

Kedua, betapa buruknya negara menjalankan resolusi problem. Makam Mbah Priok itu, menurut keterangan Wakil Gubernur DKI Prijanto, tidak digusur, tetapi hendak direnovasi sebagai tempat keramat. Namun, niat baik itu tidak dipahami karena komunikasi yang buruk.

Ketiga, terjadi distrust yang parah terhadap peraturan karena semakin hari semakin jelas bahwa penegakan hukum di negeri ini sangatlah manipulatif. Mafia hukum yang terbongkar belakangan ini bisa menjelaskan betapa meluasnya manipulasi itu.

Lalu, yang tidak kalah pentingnya adalah buruknya negara dalam mendidik warga agar memiliki disiplin. Termasuk lembaga-lembaga pendidikan. Dan, yang juga lalai menjalankan civic education adalah partai politik. Kemana mereka saat rakyat membutuhkan uluran tangan mereka dalam menjembatani komunikasi yang labil dan terputus???…….

Menghadapi Lingkungan Baru Si Buah Hati

Siap sekolah...

Tidak terasa, tahun ajaran baru buat anak-anak sekolah hampir tiba. Satu hal yang selalu terulang setiap tahun. Kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia politik dan ekonomi yang belum menemukan bentuk terbaiknya, sementara kita fokuskan fikiran kita pada jenjang pendidikan dasar anak-anak kita.

Sebagai orang tua, memberikan bekal pendidikan yang baik untuk masa depan anak adalah sebuah kewajiban yang harus dituntaskan. Jenjang pra sekolah tentunya sudah dilalui dengan segala variasi permasalahannya, kini saatnya kita memikirkan jenjang selanjutnya yaitu sekolah dasa.

Tidak dipungkiri, memilih dan memutuskan sekolah dasar mana yang menjadi pilihan menjadi hal yang gampang-gampang susah. Betapa tidak, dikatakan gampang, karena begitu banyaknya sekolah dasar yang ada di sekitar kita. Dan dikatakan susah, karena tidak semua sekolah dasar tersebut mampu memberikan bekal pendidikan yang sesuai dengan program yang sedang kita bangun terhadap anak kita.

Mungkin bagi sebagian kita, ada yang berpendapat, “Lha wong buat SD saja koq susah, kan sama aja, yang penting biayanya terjangkau….”. Atau ada juga yang seperti ini, ” Sudah, yang penting anak kita sekolah, daripada dia ngnggur, kan sayang….”. Ya…ya…ya… Sah saja semua memiliki pendapat, tapi menurut hemat saya, memilih sekolah yang sesuai dengan misi dan visi pendidikan kita memerlukan tenaga, waktu, fikiran dan biaya…. Betul tidak??? Taruhlah bahwa kita sudah memilih sebuah sekolah yang satu visi dengan kita, sehingga kita bisa nyaman mengamanahkan pendidikan anak kita kepada pengelola pendidikan tersebut, dan anak kitapun meranya nyaman dengan lingkungan dan suasana yang ada di sekolah tersebut. Beres…..khan. biaya tinggal dicarikan sekuat tenaga. Itu kan kewajiban kita sebagai orang tua.

Nah sekarang,agar anak kita bisa menjalani hari-harinya di sekolah dengan tenang dan menyenangkan, kita perlu mempersiapkan si buah hati sebelum ia menginjakkan kaki ke sekola :

Kenalkan anak dengan lingkungan sekolah sebelum masuk. Ini bisa kita lakukan ketika sedang mencari sekolah. Ajak ia masuk dan mengamati kegiatan di sekolah. Bila perlu ikutsertakan anak dalam program percobaan (free trial) yang diadakan oleh beberapa sekolah. Ia akan mengetahui hal-hal baru yang akan ditemuinya seperti guru, kelas atau teman-temannya.

Masuklah lebih awal. Tiba di sekolah lebih awal memungkinkan anak beradaptasi dan bersosialisasi dengan teman-teman atau guru baru.

Bentuk kemandirian anak. Pada hari-hari pertamanya berada di sekolah, kita tunggu dan kita tunjukkan bahwa kita selalu berada di sekitarnya. Pada saat selanjutnya secara bertahap mulai dikurangi dan pada akhirnya kita tinggalkan sama sekali, biarkan dia nyaman bersama teman di lingkungan sekolah.

Adaptasi dengan rutinitas baru. Si kecil memiliki kegiatan baru dan ini menyebabkan jadwal rutinnya berubah. Agar dia tidak kaget dengan perubahan ini, kita kenalkan dengan jadwal yang baru secara bertahap.

Apakah ada saran dan tambahan tips buat kita? Silahkan di-share……Selamat berjuang buat semua…

Khutbah : Muhasabah di Bulan Muharam

Sidang Jum’ah yang berbahagia.

Setelah kita bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan bershalawat kepada nabi kita Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam. Kita berharap dan memohon semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala, meridhoi dan menerima amalan yang kita lakukan sebagai amal ibadah yang diterima serta kita memohon pula untuk senantiasa dijadikan pengikut Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang setia hingga akhir hayat serta kita tidak kembali keharibaan-Nya kecuali dalam keadaan berserah diri kepadaNya, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita di dalam surat Ali Imran ayat 102: Artinya: “Dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan beragam Islam.” (QS. Ali Imran 102)

Sidang Jum’at yang berbahagia

Perputaran waktu terus bergulir seiring dengan perputaran matahari. Dari hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan,tanpa terasa kita sampai pada suatu putaran bulan Muharam yang merupakan permulaan dari putaran bulan dalam kalender hijriyah. Tidak sedikit dari saudara kita yang menjadikan bulan Muharram ini sebagai momentum peningkatan diri, sehingga memperingatinya merupakan suatu hal yang menjadi keharusan bahkan terkadang sampai keluar dari syari’at Islam. Padahah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya serta ulama pendahulu umat tidak pernah melakukan hal tersebut.

Sidang Jum’at yang berbahagia

Mestinya kita banyak bertafakur untuk bermuhasabah atas bertambahnya umur ini, karena sesungguhnya dengan bertambahnya umur berarti hakekatnya berkurang kesempatan untuk hidup di dunia ini. Allah menciptakan kita hidup di muka bumi ini bukan untuk disia-siakan. Tanpa tujuan yang jelas. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Allah menciptakan makhluk bernama manusia tiada lain hanya untuk beribadah kepadaNya. Allah berfirman di dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 sebagai berikut:
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu (beribadah kepadaKu).”

Sidang Jum’at yang berbahagia ..

Hidup di dunia ini sementara bukan kehidupan yang abadi atau kekal, dan dunia ini hanya merupakan persinggahan, yang tujuannya adalah kehidupan yang kekal abadi yaitu kehidupan akhirat. Berkenaan dengan ini Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
Artinya: “Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Al-A’la: 17).

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kebaikan dan kekekalan kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Sidang Jum’at yang berbahagia

Maka seorang yang beriman kepada Allah, dia harus lebih memanfaatkan kehidupan dunia ini dengan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan kehidupan yang abadi tersebut. Dan menjadikan dunia ini sebagai sarana menuju kehidupan akhirat yang lebih baik. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hasyr:

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat) dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr: 18).

Sidang Jum’at yang berbahagia ..

Lalu bekal apa yang akan kita bawa menuju kehidupan yang penuh dengan kebaikan tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah yang kita banggakan? Atau keturunankah? Saya keturunan raja, bangsawan atau kyai. Ternyata bukan itu semua, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa dan Maha Suci tidak memandang yang lain dari hambaNya kecuali taqwa hambaNya. Sebagaimana Allah ingatkan dalam firmanNya:

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”.

Sidang Jum’at yang berbahagia

Jelas bagi kita bahwa bekal yang harus kita persiapkan tiada lain hanyalah taqwa, karena taqwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Allah berfirman dan mengingatkan kita semua dalam surat Al-Baqarah:

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal”. (QS. Al.. Baqarah: 197).

Sering kita mendengar kata takwa dari ustadz, mubaligh dan para penceramah, namun bagi kebanyakan kita antara perbuatan dengan apa yang didengar tentang takwa jauh dari semestinya. Mengapa demikian? Di antara sebabnya mereka belum tahu hakekat takwa, tingkatan dan buah dari takwa tersebut. Sehingga hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri tanpa adanya perhatian penuh terhadap pentingnya bertakwa yang merupakan sebaik-baik bekal bagi kehidupan dunia ini terlebih kehidupan akhirat nanti.

Sidang Jum’at yang berbahagia

Ar-Rafi’i menyatakan dalam Al-Mishbahul Munir Fi Gharibisy Syahril Kabir, “Waqaahulloohus suu ’a” artinya Allah menjaganya dari kejahatan. Dan kata Al-Wiqa’ yaitu segala sesuatu yang digunakan sebagai pelindung. Itulah arti takwa secara bahasa.

Sedangkan takwa menurut syariat para ulama berbeda pendapat, namun semuanya bermuara pada satu pengertian, yaitu seorang hamba melindungi dirinya dari kemurkaan Allah, dan juga siksaNya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangNya. Ibnu Qayyim menyatakan, hakikat takwa adalah mentaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan ataupun perkara yang dilarang. Maka dia melakukan perintah itu karena imannya terhadap apa yang diperintahkanNya disertai dengan pembenaran terhadap janjiNya, dengan imannya itu pula ia meninggalkan yang dilarangNya dan takut terhadap ancamanNya.

Sidang Jum’at yang berbahagia.

At-Takwa dalam Al-Qur’an mencakup tiga makna yaitu: pertama: takut kepada Allah dan pengakuan superioritas Allah. Hal itu seperti firmanNya:
Artinya: “Dan hanya kepadaKulah kamu harus bertakwa.” (Al-Baqarah: 41).

Kedua: Bermakna taat dan beribadah, sebagaimana firmanNya:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa”. (Ali Imran: 102).

Ibnu Abas Radhiallaahu anhu berkata, “Taatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketaatan.”

Mujahid berkata, “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

Ketiga, dengan makna pembersihan hati dari noda dan dosa. Maka inilah hakikat takwa dari makna takwa, selain pertama dan kedua. Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang mentaati Allah dan rasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka itulah orang yang beruntung”. (An-Nur: 52).

Sidang Jum’at yang berbahagia ..

Para mufassir juga berkata, bahwa takwa mempunyai tiga kedudukan:
1. Memelihara dan menjaga dari perbuatan syirik
2. Memelihara dan menjaga dari perbuatan bid’ah
3. Memelihara dan menjaga dari perbuatan maksiat.

Sehingga seorang disebut muttaqin, selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam keadaan taat secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib, nawafil (sunnah), meninggalkan kemaksiatan berupa dosa besar dan kecil. Serta meninggalkan yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa, itulah cakupan takwa sebagaimana dimengerti oleh salafush shalih.

Sidang Jum’at yang berbahagia.

Apa yang kita dapatkan bila bertakwa kepada Allah?

Allah Ta’ala menjanjikan kepada kita, akan berada dalam kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Di antara janji Allah yang merupakan buah dari takwa adalah memberikan jalan keluar dan mendatangkan rizki. Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At-Thalaq: 2-3).

Mengadakan jalan keluar artinya menyelamatkannya dari setiap kesulitan di dunia dan akherat. Ibnu ‘Uyainah berkata itu artinya, ia mendapat keberkahan dalam rizkinya. Dan Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Barangsiapa berlepas dari kuatnya kesulitan dengan kembali kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dari beban yang ia pikul. “ (Jami Ahkamiil Qur’an, VIII: 6638-3369, secara ringkas) Dan balasan bagi mereka di akhirat yang jelas adalah akan mewarisi tempat yang merupakan dambaan setiap insan yaitu Surga dengan segala kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Itulah Surga yang akan kami wariskan kepada hamba-hamba kami yang selalu bertakwa” (Maryam: 63).

Demikianlah kita sebagai hamba Allah, sudah semestinya dalam menghadapi bulan Muharam ini dengan bertafakkur, sudah sejauh mana persiapan kita menghadapi kehidupan yang abadi tersebut. Yang terkadang kita begitu bersemangat dan penuh antusias menggapai kehidupan yang fana ini. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Ahmad Jauhari

Khutbah : Bersih Hati dari Iri dan Dengki

Assalamua’alaikum warahmatullohi wabarokaatuh.

Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin, puji serta syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat All0h SWT, karena atas segala rahmat, nikmat, hidayah serta innayah-Nya kita bisa berkumpul kembali dalam masjid yang mulia ini dalam rangka melaksanakan Sholat Jum’at secara berjamaah.

Sholawat dan salam kita haturkan kepada baginda Nabiyullah Muhammad SAW, para sahabat-sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Sebagai Khotib tak bosan-bosannya menyampaikan wasiat kepada hadirin semuanya lebih khusus kepada diri Khotib sendiri, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Alloh SWT. Dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Karena dengan taqwalah kita bisa selamat di dunia dan di akhirat kelak.

Hadirin yang berbahagia………!

Pada kesempatan ini Khotib ingin menyampaikan Khutbah dengan judul ”Bersih Hati dari Iri dan Dengki”.

Rasa iri bisa membuat orang gelap mata dan selalu memandang dengan su’udzon. Kadang kebencian ini ditularkan kepada orang lain. Dikatakannya keberhasilan yang diraih orang yang di bencinya lewat jalan yang tidak benar. Ada juga yang mencibir, menebar fitnah bahkan membuat makar.

Bila sudah begitu iri hati lebih berbahaya dari pada sakit kronis yang susah diobati.

Dengki timbul karena tiupan setan karena itu segera redam dengan berta’aawudz kepada Alloh.

Caranya dengan membaca ayat Kursi, Muaawidzatain, atau membaca, ”Audzu bikalimatillahi min syarri ma kholaq”. ( Aku berlindung kepada kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk- Nya),

Hadirin yang di Rahmati Alloh…….!

Seorang ahli hikmah mengatakan bahwa orang yang iri sedang menentang Alloh. Alasannya, Pertama, membenci nikmat-Nya yang diberikan kepada orang lain. Kedua, merasa bahwa Alloh tidak adil di dalam membagi karunia-Nya. Ketiga, menganggap bahwa Alloh bakhil terhadap dirinya. Keempat, menganggap hina hamba Alloh dan menyanjung dirinya sendiri.

Kelima, lebih menurut bisikan setan dari pada perintah Alloh SWT. Rasa iri dengki tersebut muncul karena melihat orang lain memiliki kelebihan yang tak ia miliki. Bisa jadi berupa hartanya, bakat atau keahlian tertentu. Kebencian ini menjadi lebih besar bila orang yang didengkinya lebih rendah dari pada kedudukannya.

Semua nikmat Alloh dan kelebihan yang dimiliki hamba tak lain adalah bagian dari qodha’ dan qodar. Manusia tidak dikatakan beriman jika tidak mengimaninya. Alloh memiliki sifat Al-Alim (dzat yang maha tahu) yang menentukan segalanya dengan ilmu-Nya. Karena itu memberi hamba-Nya segala sesuatu yang terbaik baginya. Tugas manusia adalah meyakini sepenuhnya bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan dibagikan sesuai dengan hikmahnya.

Jama’ah Sholat Jum’at yang Berbahagia……….!

Tidak semua Rahmat dapat membuat manusia bersyukur. Ada hamba yang lebih baik miskin dari pada kaya. Sebab kemiskinan dapat membuatnya bersykur bukan kekayaan. Misalnya adalah Qorun, yang dapat beriman tatkala miskin tapi melupakan Alloh ketika kunci-kunci gudangnya tak sanggup di panggul tujuh orang. Ada pula karena mampu mengatur kekayaanya sesuai tuntunan agama, misalnya sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Alloh berfirman yang artinya, “Dan jikalau Alloh melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentunya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Alloh menurunkan apa yang di kehendakinya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 27)

Hadirin yang di Muliakan Allah…..!

Iri dan dengki membuat diri sendiri lupa terhadap banyaknya nikmat yang diperoleh dan kelebihan yang dimiliki, hanya saja bentuk dan proporsinya berbeda. Ia lebih fokus pada kekurangannya bukan potensinya. Ia merasa kurang dan lemah, padahal bisa jadi orang yang didengki tak lebih beruntung orang yang mendengki. Seperti itulah godaan setan, membisikkan bahwa ‘rumput tetangga lebih hijau’.

Selain itu, tidak ada jaminan bahwa tuntunan nafsu akan terhenti saat yang di inginkan berhasil diperoleh. Sebab, tabiat nafsu selalu haus dan merasa kurang.

Karena itu Rasululloh SAW, memerintahkan untuk selalu melihat ke bawah, agar kita sadar bahwa ada banyak orang yang lebih sulit keadaannya.

Sehingga kita mensyukuri apa yang telah dimiliki. Rasululloh bersabda yang artinya : “Jika salah seorang diantara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan rupa, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadirin yang berbahagia…………….!

Batin akan terasa tenang bila dapat menyeimbangkan antara keinginan dan kenyataan. Dengan bersabar dan bersyukur ujian Allah dapat dilalui dengan mudah.

Alkisah, seorang wanita cantik menikah dengan pria yang buruk rupa. Semua orang menyayangkan dan mencibir. Bahkan ada yang berkata bahwa si wanita terkena guna-guna. Tapi hal itu tak dapat membuat suami-isteri tersebut goyah. Suatu hari sang isteri berkata kepada suaminya, “Suamiku, Alloh memberi ujian kepadamu berupa isteri yang cantik, bersyukurlah. Sedangkan aku diuji dengan Anda tapi aku bersabar. Kita berdua mendapatkan pahala.”

Ikhwani Fillah Rahimakumulloh…………..!

Segala sesuatu itu tidak terjadi secara instan. Seseorang tidak terlahir pintar begitu saja tanpa belajar. Orang pandai yang berceramah setelah melalui proses latihan. Orang yang punya banyak teman karena pandai menjaga sikap dan tingkah lakunya.

Intinya keahlian diperoleh dari latihan yang tekun dan kontinyu. Kadang itu semua dilihat sebagai bakat dan telah ada sejak lahir, namun pada hakikatnya hal itu adalah Rahmat dan kemudahan dari Alloh SWT. Kullun muyassarun lima khuliqa lahu (setiap manusia dimudahkan menuju untuk apa ia ciptakan). Jangan lihat hasilnya tapi proses untuk mencapainya, begitu berat dan kadang mengharukan.

Hadirin yang dirahmati Allah…………!

Bila melihat orang lain memperoleh nikmat kenapa rasa iri yang harus muncul? Alangkah indahnya jika turut merasa bahagia. Hati akan merasa lebih tenang dan ikatan ukhuwwah menjadi kian erat.

Rasululloh bersabda, “Tidak sempurna iman seorangpun diantara kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ini adalah tingkatan iman yang tinggi. Untuk menggapainya dengan melatih diri dengan sifat itsar (altruisme), mementingkan orang lain dibanding diri sendiri.

Hadirin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah…………..!

Demikian khutbah singkat yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita senantiasa terhindar dari sifat iri dan dengki.

Aamiiin…

Adnan Ahmad

Adab-adab Setelah Akad Nikah

Bulan Dzulhijjah telah tiba, seiring dengan Idul Qurban, banyak pula acara pernikahan dihelat. Sehingga, perlu rasanya memberikan panduan kepada pengantin baru adab-adab setelah akad nikah. Terima kasih saya sampaikan buat semua kawan-kawan yang memberi masukkan untuk posting ini.

Berikut ini adalah beberapa adab yang dilakukan oleh pasangan yang baru saja melakukan akad nikah sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pembahasan ini kami nukilkan dari Kitab Adabuz Zifaf karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah halaman 19 sampai 26 (e-books dari www.albany.net).

Sebenarnya ada belasan pembahasan, namun baru empat bagian awal yang bisa dibagi pada kesempatan kali ini.

Empat adab tersebut adalah:

1. Lemah-lembut terhadap Istri

Dalil dalam permasalahan ini adalah hadits tentang pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah.

Di dalam hadits tersebut dikisahkan bahwa setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyunting ‘Aisah radhiyallahu ‘anha, beliau mendapat suguhan segelas susu. Beliau pun minum susu tersebut dan lalu menyuguhkannya pula kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

2. Meletakkan Tangan di atas Kepala Istri kemudian Mendoakannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuntunkan kepada para suami, ketika mereka menikahi seorang wanita, hendaklah mereka memegang ubun-ubunnya, membaca basmalah, mendoakan keberkahan dan membaca,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA MIN KHAIRIHA WA KHAIRI MA JABALTAHA ‘ALAIHI. WA A’UDZUBIKA MIN SYARRIHA WA SYARRI MA JABALTAHA ‘ALAIHI

Artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadamu kebaikan dirinya dan kebaikan yang engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepadamu dari kejelekannya dan kejelekan yang engkau tetapkan atas dirinya”

3. Melakukan Shalat Sunnah Dua Rakaat

Ini merupakan petunjuk salaf sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Abu Said, maula Abu Usaid. Para sahabat mengajarkan,

إِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمْ سَلِّ اللهَ مِنْ خَيْرِ مَا دَخَلَ عَلَيْكَ ، وَتَعَوُّذْ بِهِ مِنْ شَرِّهِ ، ثُمَّ شَأنُكَ وَشَأْنُ أَهْلِكَ

“Jika istrimu menghampirimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan apa yang datang kepadamu, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelakannya. Kemudian terserah kepadamu dan istrimu.” (HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah, sanadnya shahih sampai kepada Abu Sa’id).

Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan kepada seseorang yang baru menikah,

فَإِذَا أَتَتْكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَيْنِ

“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat di belakangmu”(HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah)

4. Membaca doa sebelum melakukan hubungan seks

Dianjurkan sekali untuk membaca doa sebelum dia mendatangi istrinya,

بِسْمِ اللهِ ، اَللَّهُمَّ جَنِبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِبِ الشَّيْطاَنَ مَا رَزَقْتَنَا

 

Bismillah. Allahumma janibnasy syaithaan wa janibisy syaithan ma razaqtana.

Artinya, “Bismillah, ya Allah, jauhkan syaithan dari kami, dan jauhkan syaithan dari apa yang engkau anugerahkan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang doa ini, “Apabila Allah menakdirkan keduanya untuk mendapatkan anak, maka anak itu tidak akan mendapatkan kemudharatan dari syaithan selamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Ashabussunan kecuali An-Nasa’i).

Inilah empat point awal yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adabuz Zifaf. Point-point selanjutnya adalah tentang perkara jima’ (hubungan seks) dan soal bersuci yang insya Allah saya sampaikan di kemudian hari. Wallahu a’lam bisshawab.

www.wiramandiri.wordpress.com

Kerja Ikhlas = Investasi

IkhlasKisah ini terjadi beberapa tahun silam…..

Seorang mahasiswa bertubuh kurus kering mendatangi sebuah warung makan yang terletak di dekat kampusnya, UNPAD di Jl. Dipati Ukur. Kampus sebuah perguruan tinggi negeri favorit di Bandung. Ibu pemilik warung yang memang biasa melayani para mahasiswa tersebut menyambutnya dengan ramah.
”Silahkan Dik, mau makan nasi pakai lauk apa?” tanyanya.
”Kalau sebungkus nasi harganya berapa Bu?” si mahasiswa balik bertanya.
”Lima ratus rupiah, Dik. Lauknya mau apa saja? Silahkan pilih”, jawab si pemilik warung.
”Kalau sepotong daging rendang harganya berapa Bu?” tanya si mahasiswa lagi.
”Dua ribu saja”, jawab si pemilik warung.
Si mahasiswa terlihat mengerenyitkan dahi dan berpikir. ”Kalau sayur lodeh jadi berapa Bu?” tanyanya lagi.

Begitu seterusnya si mahasiswa menanyakan satu persatu harga masakan yang ada di warung itu. Setiap kali diberitahu harganya, si mahasiswa terlihat terdiam sejenak dan terus menanyakan harga masakan lainnya yang ada di warung itu. Sementara sang pemilik warung berusaha menjawab satu persatu dengan sabar.

Sampai akhirnya si mahasiswa bertanya, ”Kalau kuahnya saja tanpa tanpa daging berapa Bu?”
”Oh, kalau kuahnya gratis, Dik”, jawabnya.
”Oh…., kalau begitu saya beli nasi satu porsi saja tetapi disiram kuah rendang atau kuah soto. Jadi hanya lima ratus rupiah ya Bu,” kata si mahasiswa sambil mengeluarkan uang lima ratus rupiah.
”Mohon maklum ya Bu, uang kiriman orang tua saya sangat terbatas. Sedangkan saya harus segera menyelesaikan skripsi saya yang membutuhkan banyak biaya. Jadi terpaksa harus ngirit”, katanya dengan nada malu-malu.
”Pasti mahasiswa ini berasal dari keluarga miskin yang tinggal di luar kota”, pikir sang pemilik warung. ”Tetapi dia pasti membutuhkan banyak gizi agar dapat cepat menyelesaikan skripsinya”, pikirnya lagi.

Sang ibu pemilik warung yang merasa iba lalu menyelipkan sepotong telur yang tidak terlihat di bagian tengah nasi yang dibungkusnya, sebelum menyiramnya dengan kuah rendang.

Keesokan harinya, si mahasiswa kembali ke warung tersebut. Dia hanya berkata dengan malu-malu, ”Beli nasi seperti yang kemarin, ya Bu. Disiram kuah rendang atau kuah soto…”. Lalu dia membayar lima ratus rupiah saja dan tidak berkata apa-apa lagi.
Begitu seterusnya. Setiap hari si mahasiswa pendiam memesan makanan yang sama dan si pemilik warung selalu tak pernah lupa menyelipkan sebutir telur, terkadang sepotong daging rendang ke dalam nasi yang dibungkusnya. Sang pemilik warung melakukan ini dengan hati yang ikhlas ingin membantu si mahasiswa miskin tersebut.

Setelah beberapa minggu berlalu, si mahasiswa itu tiba-tiba menghilang. Dia tidak pernah menampakkan diri lagi di warung itu. ”Mungkin dia sudah lulus menjadi sarjana dan kembali ke kota asalnya”, pikir sang pemilik warung. Sang pemilik warung pun melupakannya.
Belasan tahun kemudian…

Sang pemilik warung benar-benar sedang kalut. ”Hari ini adalah hari terakhir warung kita buka. Besok warung kita akan digusur karena ada pembangunan monumen xxxxxxxxx”, katanya kepada anak-anaknya sambil berlinang air mata. Anak-anaknya yang masih kuliah serta yang masih duduk di bangku SMA duduk diam terpaku merenungi nasib mereka.
”Ya, Tuhan…! Dengan apa aku harus membiayai sekolah anak-anakku setelah warung ini digusur?”, jeritnya dalam hati.

Semakin sesak perasaan hatinya, kala teringat uang tabungannya yang telah ludes untuk membiayai pengobatan rumah sakit anaknya yang bungsu. Tidak ada lagi uang untuk biaya membuka warung di tempat lain.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil berhenti tepat di depan warungnya. Seorang pria berdasi yang tidak dikenalnya menghampiri dan berkata, ”Bu, besok warung ini akan digusur bukan? Apakah Ibu sudah memutuskan akan pindah ke mana?” tanyanya lagi.
”Belum, Pak…”, jawab sang pemilik warung dengan terbata-bata.
”Bagus! Kalau begitu, mulai besok Ibu bisa berjualan di kantin kami di gedung perkantoran xxxxxx”, katanya menyebutkan sebuah gedung perkantoran yang cukup megah di pusat kota Bandung.
”Tapi Pak, kami tidak mampu membayar biaya sewanya. Apalagi di gedung itu, pasti mahal sekali biaya sewanya”, kata sang pemilik warung.
”Ibu tenang saja … karena di sana Ibu tidak usah membayar sewa sama sekali. Tempat untuk Ibu berjualan sudah disediakan oleh Direktur perusahaan kami. Ibu boleh memakainya untuk berjualan makanan sampai kapan pun Ibu mau.”
”Haaahh…! Siapa direktur itu? Saya tidak punya kenalan direktur…”, kata sang pemilik warung dengan sangat terkejut.
”Saya sendiri tidak begitu mengenalnya… karena saya staf baru di perusahaan kami”, kata si pria tersebut. ”Tetapi Pak Direktur titip pesan, katanya dahulu sewaktu kuliah dia sangat menyukai telur dan daging rendang masakan Ibu. Mulai besok dia ingin makan masakan itu lagi di kantornya…”.
* * *
Dari peristiwa itu, saya bisa belajar satu hal bahwa kebaikan yang dijalankan dengan hati penuh ikhlas adalah investasi. Semua Investasi pasti akan menghasilkan. Investasi kebaikan saat ini akan menghasilkan kebaikan pula di kemudian hari, walau pun kita belum tahu wujud kebaikan yang akan terjadi nanti.

Dengan bekerja ikhlas kita tidak memperdulikan balasan atau pun imbalan dari perbuatan kita. Seperti matahari pagi yang tetap bersinar setiap pagi, tidak pernah mengharapkan sinarnya dipantulkan kembali kepada matahari.
Tetaplah bekerja dengan x-tra kerja ikhlas!.

Ingatlah! Bahwa walau pun semua orang di dunia tidak peduli dan menutup mata terhadap apa pun keikhlasan yang kita perbuat, tetapi Allah akan selalu melihat dan memandang dengan ke Mahatahuan-Nya.[*]

Terima kasih buat Pelangi http://akusangpelangi.blogspot.com

Kontrol Diri dengan Rasa Malu

malu-korupsi“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk. Kemudian kami kembalikan dia ke peringkat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mereka beramal shalih ,” (QS. At-Tin: 4-6)

Manusia adalah ciptaan Alloh yang paling mulia dan sempurna. Selain bentuk fisik yang bagus, ia pun dianugerahi Allah Ta’ala kemampuan berpikir melalui akal. Dengan modal akal ini, manusia dapat mempertahankan predikat kemuliaan dan kesucian fitrahnya. Tanpa memanfaatkan akal yang sehat, manusia akan terjerembab ke jurang kehinaan.

Salah satu ciri utama fitrah manusia adalah memiliki rasa malu. Ketika rasa malu hilang, manusia secara pasti memperturutkan hawa nafsunya dan mengabaikan petunjuk akal dan nuraninya (QS. Al-A’raf: 179).

Secara sederhana, malu dapat dimaknakan sebagai sifat atau perasaan yang membuat enggan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Dalam buku Adab an-Nabi, ustads Abdul Qadir Ahmad ‘Atha membedah secara bahasa kata ‘malu’ dengan cemerlang. Menurutnya, kata ‘al-hayyaa’ (malu) pada dasarnya memilki sinergi erat dengan kata ‘al-hayaat’ yang berarti kehidupan. Sebab, kata itu mengandung makna: perasaan sedih dan perubahan jiwa yang dapat menyedot segala kekuatan lahir dan batin, mencoreng kehormatan diri dan mengurangi harkat nilai keidupan manusia.

Sifat malu mutlak dimiliki seorang Muslim. Sebab rasa malu tak lain merupakan refleksi keimanan, laksana perisai yang dapat mencegah seseorang dari melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Bahkan mulia-hinanya akhlak seseorang dapat diukur dari rasa malu yang ia miliki.

Karena itulah, malu tak dapat dipisahkan dari keimanan. Keduanya selalu hadir bersama-sama. Makin kuat iman seseorang, makin tebal pula rasa malunya. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah saw bersabda: “Iman itu memiliki 60 sampai 70 cabang, yang paling utama ialah pernyataan ‘Laa ilaaha illallah’. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman,” (Muttafaq ‘alaih).

Jadi, seorang Musim yang benar-benar memiliki komitmen dalam menjalankan ajaran Islam tentu punya komitmen dalam memelihara sifat malunya. Sebab ketika rasa malu itu tak lagi bersemayam dalam jiwanya, pada hakikatnya keimanannya tidak lagi sempurna. Paling tidak, ketika rasa malu itu sedang hilang darinya. Sabda Rasulullah saw, “Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu jadi satu, maka apabila lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya,” (HR. Hakim dan Baihaqi).

Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama. Tanpa kontrol rasa malu, seseorang akan leluasa melakukan apa pun yang ia inginkan, meski hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu,” (HR. Bukhari). [*]

Kemaafan dalam Persahabatan

salamanAda suatu kisah, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya, lalu beliau berkata kepada para sahabatnya, “Sebentar lagi akan datang kepada kalian seorang penghuni surga”. Lalu para sahabat mengalihkan pandangannya ke pintu masuk dan mereka menyaksikan seorang lelaki dari kaum Anshar datang menuju tempat mereka. Dari wajahnya tampak ketaqwaan, kesederhanaan, dan sikap toleransi yang tinggi. Akhirnya seorang sahabat rasul yang bernama Abdullah bin Amru suatu ketika memberitakan apa yang didengarnya dari Rasulullah kepada lelaki tsb dan menanyakan padanya akan satu amal saleh yang mungkin disembunyikannya, yang membuatnya berhak mendapatkan tempat di surga. Lelaki tsb menjawab, “aku tidk punya amalan lain, selain apa yang telah kau lihat. Aku melaksanakan shalat sebagaimana orang melakukannya. Aku melakukan ketaatan sebagaimana orang melakukannya. Bedanya..aku tidak pernah DENGKI terhadap siapapun atas kebaikan yang telah Allah anugerahkan kepadanya dan setiap kali aku hendak menuju tempat tidurku, aku tidak pernah menyimpan kedengkian kepada siapapun dalam hatiku”

Betapa disini kita bisa melihat integrasi hati dan cinta sebelum melakukan kewajiban ibadah. Diiringi hati di awal pekerjaan dan tetap diiringi hingga akhirnya, hati yang baik, suci dan bersih, hati yang tidak mengenal benci dan kedengkian, hati yang murah dan hanya menyimpan cinta, selalu cinta.

Rasulullah saw. bersabda, “bersikaplah toleran maka hilanglah kebencian” (al-hadist). Dalam hadist lain Rasulullah saw. bersabda, “tidak halal bagi siapapun dari kalian untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari lamanya” (al-hadist).

Bulan Ramadhan telah satu pekan meninggalkan kita. Suasana gegap gempita keceriaan saat waktu sahur, buka puasa, tarwih dan tadarus berganti keheningan. Andaikan suasana itu bisa bertahan, kemungkinan terjadi hanya di beberapa masjid saja. Bersyukur hal ini bisa terjadi sebagai wujud komitmen dan loyalitas kehambaan. Andaikan Ramadhan terus berlangsung. Hanya kata andaikan…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.