Kerja Ikhlas = Investasi

IkhlasKisah ini terjadi beberapa tahun silam…..

Seorang mahasiswa bertubuh kurus kering mendatangi sebuah warung makan yang terletak di dekat kampusnya, UNPAD di Jl. Dipati Ukur. Kampus sebuah perguruan tinggi negeri favorit di Bandung. Ibu pemilik warung yang memang biasa melayani para mahasiswa tersebut menyambutnya dengan ramah.
”Silahkan Dik, mau makan nasi pakai lauk apa?” tanyanya.
”Kalau sebungkus nasi harganya berapa Bu?” si mahasiswa balik bertanya.
”Lima ratus rupiah, Dik. Lauknya mau apa saja? Silahkan pilih”, jawab si pemilik warung.
”Kalau sepotong daging rendang harganya berapa Bu?” tanya si mahasiswa lagi.
”Dua ribu saja”, jawab si pemilik warung.
Si mahasiswa terlihat mengerenyitkan dahi dan berpikir. ”Kalau sayur lodeh jadi berapa Bu?” tanyanya lagi.

Begitu seterusnya si mahasiswa menanyakan satu persatu harga masakan yang ada di warung itu. Setiap kali diberitahu harganya, si mahasiswa terlihat terdiam sejenak dan terus menanyakan harga masakan lainnya yang ada di warung itu. Sementara sang pemilik warung berusaha menjawab satu persatu dengan sabar.

Sampai akhirnya si mahasiswa bertanya, ”Kalau kuahnya saja tanpa tanpa daging berapa Bu?”
”Oh, kalau kuahnya gratis, Dik”, jawabnya.
”Oh…., kalau begitu saya beli nasi satu porsi saja tetapi disiram kuah rendang atau kuah soto. Jadi hanya lima ratus rupiah ya Bu,” kata si mahasiswa sambil mengeluarkan uang lima ratus rupiah.
”Mohon maklum ya Bu, uang kiriman orang tua saya sangat terbatas. Sedangkan saya harus segera menyelesaikan skripsi saya yang membutuhkan banyak biaya. Jadi terpaksa harus ngirit”, katanya dengan nada malu-malu.
”Pasti mahasiswa ini berasal dari keluarga miskin yang tinggal di luar kota”, pikir sang pemilik warung. ”Tetapi dia pasti membutuhkan banyak gizi agar dapat cepat menyelesaikan skripsinya”, pikirnya lagi.

Sang ibu pemilik warung yang merasa iba lalu menyelipkan sepotong telur yang tidak terlihat di bagian tengah nasi yang dibungkusnya, sebelum menyiramnya dengan kuah rendang.

Keesokan harinya, si mahasiswa kembali ke warung tersebut. Dia hanya berkata dengan malu-malu, ”Beli nasi seperti yang kemarin, ya Bu. Disiram kuah rendang atau kuah soto…”. Lalu dia membayar lima ratus rupiah saja dan tidak berkata apa-apa lagi.
Begitu seterusnya. Setiap hari si mahasiswa pendiam memesan makanan yang sama dan si pemilik warung selalu tak pernah lupa menyelipkan sebutir telur, terkadang sepotong daging rendang ke dalam nasi yang dibungkusnya. Sang pemilik warung melakukan ini dengan hati yang ikhlas ingin membantu si mahasiswa miskin tersebut.

Setelah beberapa minggu berlalu, si mahasiswa itu tiba-tiba menghilang. Dia tidak pernah menampakkan diri lagi di warung itu. ”Mungkin dia sudah lulus menjadi sarjana dan kembali ke kota asalnya”, pikir sang pemilik warung. Sang pemilik warung pun melupakannya.
Belasan tahun kemudian…

Sang pemilik warung benar-benar sedang kalut. ”Hari ini adalah hari terakhir warung kita buka. Besok warung kita akan digusur karena ada pembangunan monumen xxxxxxxxx”, katanya kepada anak-anaknya sambil berlinang air mata. Anak-anaknya yang masih kuliah serta yang masih duduk di bangku SMA duduk diam terpaku merenungi nasib mereka.
”Ya, Tuhan…! Dengan apa aku harus membiayai sekolah anak-anakku setelah warung ini digusur?”, jeritnya dalam hati.

Semakin sesak perasaan hatinya, kala teringat uang tabungannya yang telah ludes untuk membiayai pengobatan rumah sakit anaknya yang bungsu. Tidak ada lagi uang untuk biaya membuka warung di tempat lain.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil berhenti tepat di depan warungnya. Seorang pria berdasi yang tidak dikenalnya menghampiri dan berkata, ”Bu, besok warung ini akan digusur bukan? Apakah Ibu sudah memutuskan akan pindah ke mana?” tanyanya lagi.
”Belum, Pak…”, jawab sang pemilik warung dengan terbata-bata.
”Bagus! Kalau begitu, mulai besok Ibu bisa berjualan di kantin kami di gedung perkantoran xxxxxx”, katanya menyebutkan sebuah gedung perkantoran yang cukup megah di pusat kota Bandung.
”Tapi Pak, kami tidak mampu membayar biaya sewanya. Apalagi di gedung itu, pasti mahal sekali biaya sewanya”, kata sang pemilik warung.
”Ibu tenang saja … karena di sana Ibu tidak usah membayar sewa sama sekali. Tempat untuk Ibu berjualan sudah disediakan oleh Direktur perusahaan kami. Ibu boleh memakainya untuk berjualan makanan sampai kapan pun Ibu mau.”
”Haaahh…! Siapa direktur itu? Saya tidak punya kenalan direktur…”, kata sang pemilik warung dengan sangat terkejut.
”Saya sendiri tidak begitu mengenalnya… karena saya staf baru di perusahaan kami”, kata si pria tersebut. ”Tetapi Pak Direktur titip pesan, katanya dahulu sewaktu kuliah dia sangat menyukai telur dan daging rendang masakan Ibu. Mulai besok dia ingin makan masakan itu lagi di kantornya…”.
* * *
Dari peristiwa itu, saya bisa belajar satu hal bahwa kebaikan yang dijalankan dengan hati penuh ikhlas adalah investasi. Semua Investasi pasti akan menghasilkan. Investasi kebaikan saat ini akan menghasilkan kebaikan pula di kemudian hari, walau pun kita belum tahu wujud kebaikan yang akan terjadi nanti.

Dengan bekerja ikhlas kita tidak memperdulikan balasan atau pun imbalan dari perbuatan kita. Seperti matahari pagi yang tetap bersinar setiap pagi, tidak pernah mengharapkan sinarnya dipantulkan kembali kepada matahari.
Tetaplah bekerja dengan x-tra kerja ikhlas!.

Ingatlah! Bahwa walau pun semua orang di dunia tidak peduli dan menutup mata terhadap apa pun keikhlasan yang kita perbuat, tetapi Allah akan selalu melihat dan memandang dengan ke Mahatahuan-Nya.[*]

Terima kasih buat Pelangi http://akusangpelangi.blogspot.com

Kontrol Diri dengan Rasa Malu

malu-korupsi“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk. Kemudian kami kembalikan dia ke peringkat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mereka beramal shalih ,” (QS. At-Tin: 4-6)

Manusia adalah ciptaan Alloh yang paling mulia dan sempurna. Selain bentuk fisik yang bagus, ia pun dianugerahi Allah Ta’ala kemampuan berpikir melalui akal. Dengan modal akal ini, manusia dapat mempertahankan predikat kemuliaan dan kesucian fitrahnya. Tanpa memanfaatkan akal yang sehat, manusia akan terjerembab ke jurang kehinaan.

Salah satu ciri utama fitrah manusia adalah memiliki rasa malu. Ketika rasa malu hilang, manusia secara pasti memperturutkan hawa nafsunya dan mengabaikan petunjuk akal dan nuraninya (QS. Al-A’raf: 179).

Secara sederhana, malu dapat dimaknakan sebagai sifat atau perasaan yang membuat enggan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Dalam buku Adab an-Nabi, ustads Abdul Qadir Ahmad ‘Atha membedah secara bahasa kata ‘malu’ dengan cemerlang. Menurutnya, kata ‘al-hayyaa’ (malu) pada dasarnya memilki sinergi erat dengan kata ‘al-hayaat’ yang berarti kehidupan. Sebab, kata itu mengandung makna: perasaan sedih dan perubahan jiwa yang dapat menyedot segala kekuatan lahir dan batin, mencoreng kehormatan diri dan mengurangi harkat nilai keidupan manusia.

Sifat malu mutlak dimiliki seorang Muslim. Sebab rasa malu tak lain merupakan refleksi keimanan, laksana perisai yang dapat mencegah seseorang dari melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Bahkan mulia-hinanya akhlak seseorang dapat diukur dari rasa malu yang ia miliki.

Karena itulah, malu tak dapat dipisahkan dari keimanan. Keduanya selalu hadir bersama-sama. Makin kuat iman seseorang, makin tebal pula rasa malunya. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah saw bersabda: “Iman itu memiliki 60 sampai 70 cabang, yang paling utama ialah pernyataan ‘Laa ilaaha illallah’. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman,” (Muttafaq ‘alaih).

Jadi, seorang Musim yang benar-benar memiliki komitmen dalam menjalankan ajaran Islam tentu punya komitmen dalam memelihara sifat malunya. Sebab ketika rasa malu itu tak lagi bersemayam dalam jiwanya, pada hakikatnya keimanannya tidak lagi sempurna. Paling tidak, ketika rasa malu itu sedang hilang darinya. Sabda Rasulullah saw, “Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu jadi satu, maka apabila lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya,” (HR. Hakim dan Baihaqi).

Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama. Tanpa kontrol rasa malu, seseorang akan leluasa melakukan apa pun yang ia inginkan, meski hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu,” (HR. Bukhari). [*]

Kemaafan dalam Persahabatan

salamanAda suatu kisah, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya, lalu beliau berkata kepada para sahabatnya, “Sebentar lagi akan datang kepada kalian seorang penghuni surga”. Lalu para sahabat mengalihkan pandangannya ke pintu masuk dan mereka menyaksikan seorang lelaki dari kaum Anshar datang menuju tempat mereka. Dari wajahnya tampak ketaqwaan, kesederhanaan, dan sikap toleransi yang tinggi. Akhirnya seorang sahabat rasul yang bernama Abdullah bin Amru suatu ketika memberitakan apa yang didengarnya dari Rasulullah kepada lelaki tsb dan menanyakan padanya akan satu amal saleh yang mungkin disembunyikannya, yang membuatnya berhak mendapatkan tempat di surga. Lelaki tsb menjawab, “aku tidk punya amalan lain, selain apa yang telah kau lihat. Aku melaksanakan shalat sebagaimana orang melakukannya. Aku melakukan ketaatan sebagaimana orang melakukannya. Bedanya..aku tidak pernah DENGKI terhadap siapapun atas kebaikan yang telah Allah anugerahkan kepadanya dan setiap kali aku hendak menuju tempat tidurku, aku tidak pernah menyimpan kedengkian kepada siapapun dalam hatiku”

Betapa disini kita bisa melihat integrasi hati dan cinta sebelum melakukan kewajiban ibadah. Diiringi hati di awal pekerjaan dan tetap diiringi hingga akhirnya, hati yang baik, suci dan bersih, hati yang tidak mengenal benci dan kedengkian, hati yang murah dan hanya menyimpan cinta, selalu cinta.

Rasulullah saw. bersabda, “bersikaplah toleran maka hilanglah kebencian” (al-hadist). Dalam hadist lain Rasulullah saw. bersabda, “tidak halal bagi siapapun dari kalian untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari lamanya” (al-hadist).

Bulan Ramadhan telah satu pekan meninggalkan kita. Suasana gegap gempita keceriaan saat waktu sahur, buka puasa, tarwih dan tadarus berganti keheningan. Andaikan suasana itu bisa bertahan, kemungkinan terjadi hanya di beberapa masjid saja. Bersyukur hal ini bisa terjadi sebagai wujud komitmen dan loyalitas kehambaan. Andaikan Ramadhan terus berlangsung. Hanya kata andaikan…

Sudah Sampai Mana Bacaan Al Qur’an Kita?

Sunnah dalam bulan Ramadhan adalah membaca Al Qur’an. Karena waktu itu, Jibril dan Rasulullah melakukan tadarus Al Qur’an. Para Salaf pun telah melakukan hal serupa, lalu bagaimana dengan kita?


altRamadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur`an. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa di tiap tahunnya Jibril Alaihissalam membacakan Al Qur`an kepada Rasulullah SAW, dan itu dilakukan di tiap-tiap malam selama Ramadhan.

Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca Al Qur`an di bulan Ramadhan akan menambah kemulyaan bulan itu. (Fath Al Bari,9/52).

Karena itulah, para salaf amat memperhatikan dan “menggalakkan” amalan tilawah, dandalam bulan mulia ini.

Adalah Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa salah satu tabi’in ini mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.

Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini menghatamkan Al Qur`an sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).

Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302).

Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terekam amalannya di bulan diturunnya Al Qur`an ini. Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu menghatamkan Al Qur`an di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sahari semalam. (Al Hilyah, 3/57).

Sedangkan Abu Hanifah, dalam bulan Ramadhan juga mampu menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam sehari. Sekali di siang hari, sekali di alam harinya. Bahkan Ibnu Mubarak mengatakan, “Abu Hanifah menghatamkan Al Qur’an dalam 2 rakaat” (Manaqib Al Imam Abi Hanifah, 1/241-242)

Imam As Syafi’i sendiri mampu menghatamkan Al Qur’an 60 kali dalam bulan Ramadhan. (Lathai`if Al Ma’arif, hal.400)

Sumber : Hidayatullah.com

<!– BEGIN: HIGHLIGHT

–>

Tadarus Al-Qur’an

Istilah tadarus Al-Quran sebenarnya agak berbeda antara bentuk yang kita saksikan sehari-hari denganmakna bahasanya. Tadarus atau tadarusan biasanya berbentuk sebuah majelis di mana para pesertanya membaca Al-Quran bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak. Dan umumnya dilaksanakan di masjid atau mushalla di malam-malam bulan Ramadhan.

Padahal kata tadarus berasal dari asal kata darosayadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji dan mengambil pelajaran. Lalu ketambahan huruf ta’ di depannya sehingga menjadi tadaarosa – yatadaarosu, maka maknanya bertambah menjadi saling belajar, atau mempelajari secara lebih mendalam.

Adapun kegiatan ‘tadarusan’ yang kita lihat sehari-hari di negeri kita ini, sepertinya nyaris tanpa pengkajian makna tiap ayat, yang ada hanya sekedar membaca saja.

Bahkan terkadang benar dan tidaknya bacaan tidak terperhatikan karena tidak ada ustadz’ yang ahli di bidang membaca Al-Quran yang bertugas mentashih bacaan.

Bentuk tadarusan seperti itu lebih tepat menggunakan istilah tilawah wal istima’. Kata tilawah berarti membaca, dan kata istima’ yang berarti mendengar.

Membaca Al-Quran

Kalau para peserta sudah fasih dan menguasai teknik membaca Al-Quran yang baik, maka tidak mengapa bila masing-masing membaca sendiri-sendiri. Kalaupun mau disima’ (didengarkan) juga tidak mengapa. Karena membaca dan mendengar sama-sama mendatangkan pahala.

Allah SWT telah memerintahkan kita selain untuk membaca, juga mendengarkan Al-Quran.

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’roof: 204)

Namun apabila para peserta yang masih lemah bacaannya, sebaiknya mereka tidak dilepas membaca Al-Quran sendirian. Perlu ada ustadz yang membetulkan bacaannya. Sehingga yang perlu dilakukan bukan ‘tadarusan’, tetapi belajar membaca Al-Quran. Atau istilah yang sekarang populer adalah tahsin Al-Quran atau tahsin tilawah. Tahsin artinya membaguskan bacaan.

Dalam hal ini, tentu saja harus ada ustadz yang ahli dalam membaca Al-Quran. Dan tidak boleh seseorang dibiarkan membaca dengan salah baik makhraj maupun tajiwidnya. Mereka harus didampingi oleh yang sudah baik bacaannya, dibimbing dan dibenahi bacaannya dengan baik.

Tadarus di Masa Nabi

Tadarus dalam arti yang sebenarnya, yaitu mempelajari isi dan kandungan al-Quran di masa nabi SAW adalah dengan cara mempelajari beberapa ayat, setelah mendalam dan mengerti, baru diteruskan lagi beberapa ayat.

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: “Adalah seorang dari kami jika telah mempelajari 10 ayat maka ia tidak menambahnya sampai ia mengetahui maknanya dan mengamalkannya”
Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam tahqiq-nya atas tafsir At-Thabari (I/80).

Bahwa mereka yang menerima bacaan dari Nabi SAW (menceritakan) adalah mereka apabila mempelajari 10 ayat tidak pernah meninggalkannya (tidak menambahnya) sebelum mengaplikasikan apa yang dikandungnya, maka kami mempelajari ilmu Al-Qur’an dan amalnya sekaligus.

Semoga hari-hari di bulan Ramadhan yang tinggal beberapa ini tidak kita lupakan untuk kita isi dengan tilawah, tahsin dan tadaarus Al-Qur’an.[*]

Duka Tasikmalaya Saat Ramadhan

Tasikmalaya (webnews) - Gempa tektonik dengan magnitude  7,3 Skala Richter terjadi sekitar pukul 14.55 WIB, Rabu (2/9) kemarin. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa (episentrum) berada pada 142 kilometer barat daya Tasikmalaya dengan kedalaman 30 kilometer dibawah laut.

Akibat gempa yang diperkirakan 3-4 kali lebih kuat dari gempa tsunami di Pangandaran tempo tahun, mengakibatkan banyak rumah warga mengalami kerusakan cukup parah, bahkan ada beberapa rumah yang hancur luluh lantak rata dengan tanah.
Selain khawatir dengan kemungkinan gempa susulan, tak urung gempa ini juga membuat warga panik berhamburan keluar rumah, berlarian menuju tanah lapang dan tepi jalan.
Dari pihak yang berwenang belum ada laporan di wilayah Kota Tasikmalaya gempa ini telah menimbulkan korban jiwa, selain telah menimbulkan kerugian harta benda, gempa juga mengakibatkan tidak sedikit warga yang terluka. (webnews.kominfo/photo-kan.pft)

Do’a Malaikat

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma:

أن النبي صلى الله عليه وسلم رَقَى المِنبر فَلما رَقَى الدَّرجة الأُولى قال : ( آمِين ) ثُم رَقى الثَانية فَقال : ( آمِينَ ) ثُم رَقى الثَالثة فَقال : ( آمِينَ ) فقالوا : يا رسول الله سَمعنَاك تَقولُ : ( آمينَ ) ثَلاث مَرات ؟ قال : ( لَما رَقيتُ الدَّرجةَ الأُولى جَاءِني جِبريلُ صلى الله عليه وسلم فَقال : شَقي عَبدٌ أَدركَ رمضانَ فانسَلخَ مِنهُ ولَم يُغفَر لَه فَقلتُ : آمِينَ ، ثُم قَال شَقي عَبدٌ أَدرك والدَيهِ أَو أَحدَهُما فَلم يُدخِلاهُ الجنَّةَ . فَقلتُ : آمينَ . ثُم قَال شَقي عَبدٌ ذُكرتَ عِندهُ ولَم يُصلِ عَليك . فَقلتُ : آمينَ )

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”.

Para sahabat bertanya.”Kenapa engkau berkata amin, amin, amin, wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’.

Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi itu tidak memasukkan dia ke syurga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’ “.

Kemudian Jibril berkata lagi.’Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’.” (Dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Adab al-Mufrad dan dinilai Sahih Lighairihi oleh al-Albani di dalam Sahih Adab al-Mufrad – no: 644).

Etimologi Ramadhan

ram “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Jika kita simak pada ayat tersebut terdapat kata ramadhan. Secara etimologi, ramadhan berasal dari kata ra-mi-dha yang merupakan fi’il madhi. Kata ini berarti “panas” atau “panas yang menyengat”. Kata ini berkembang sebagaimana biasa terjadi dalam struktur bahasa Arab dan bisa diartikan “menjadi panas, atau sangat panas”, atau dimaknai “hampir membakar”. Dalam kamus Al-Munjid, ramidha atau ramdha’ memiliki makna syadid al-har (“sangat panas”, “terik”).

Jika orang Arab mengatakan qad ramidha yaumuna, maka itu berarti “hari telah menjadi sangat panas”.

Tampaknya, keagungan bulan ini tidak digemakan dari makna kebahasaannya saja, akan tetapi juga pada makna substantifnya. Nama Ramadhan selain menunjukkan kondisi alam yang ada di lingkungan sahara Arab yang terbiasa berhias terik dan panas, juga melambangkan sebuah tantangan dahsyat bagi para pelaksana ibadah puasa (ash-shaimun). Selain itu, dari namanya, ada sebagian ulama yang harus menginterpretasi kata ramadhan dengan huruf per huruf yang semuanya memiliki makna.

TAKJIL: Wahana Suburkan Ukhuwah Iqthishodiyah

Oleh Husen Arifin
dari Pond. Pest. Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura

takjilBulan suci ramadan melahirkan berjuta keberkahan. Pada bulan yang amat dinanti seluruh kaum muslimin seluruh dunia itu, banyak diadakan kegiatan digelar, mulai dari berbuka dan terawih bersama, tadarus hingga ada sebagian pihak yang memanfaatkan momentum itu mengais rezeki dan mendapat penghasilan tambahan. Biasanya  pihak-pihak yang terlibat didominasi oleh golongan anak muda yang masih duduk perkuliahan. Tak ayal Ramadan seakan menjadi katalisator bagi bermunculannya generasi-generasi wiraswasta instan.

Wiraswasta instan ini umumnya beromzet kantong pas-pasam. Meskipun berbekal bonek (bondo nekat) alias tanpa persiapan, bukan berarti semangat enterpreneurship yang mereka usung melempem. Buktinya di sepanjang trotoar jalanan umum, kawanan wiraswasta instan itu berjejal mengambil peluang dalam menawarkan komoditas jajanan mereka mulai dari es cendol, kolak, cilok dan sebagainya. Entah dari mana resep itu mereka dapatkan, tetapi yang pasti bagi wiraswasta instan apalagi yang berasal dari mahasiswa jurusan ekonomi, inilah saatnya untuk mengaplikasikan ilmu perekonomian yang mereka dapatkan di bangku perkuliahan secara langsung di alam riil.

Cara kerja mereka boleh dibilang sederhana atau lebih tepat dikatakan serabutan Biasanya mereka berasal dari beberapa kelompok, yang kemudian mengumpulkan modal bersama, dengan tujuan ingin mencari pengalaman, mempelajari strategi bisnis, meminimalisir kejenuhan, mereka mencerburkan diri ke dalam bisnis ini. Di dalam Islam, antara takjil dan berwirausaha sebenarnya telah tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, hal itu terlihat seperti dalam firman Allah SWT di surat Ibrahim ayat 31, yang menerangkan bahwa “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”.

Dapat diintasarikan bahwa sesungguhnya berwirausaha dengan membuka lapangan perekonomian secara islami dengan produk “takjil” di bulan suci ramadhan, pun dapat disadari akan menumbuhkan ghiroh atau semangat ber-ukhuwah iqthishodiyah, yang nantinya bisa melakukan silaturrahim antar sesama kaum muslimin dalam mengukuhkan naluri fitrahnya sebagai hamba Allah SWT.

Karena itu, Islam telah memberikan kejelasan di dalam firman Allah SWT seperti yang disebutkan di atas. Sehubungan dengan mahasiswa yang berwiraswasta secara instan dengan menjajakan takjil untuk berbuka puasa, perlu adanya membumikan dirinya dengan menjunjung nilai-nilai keislaman. Sebab bulan Ramadhan adalah bulan yang membimbing seluruh ummat muslimin untuk belajar dan melakukan tradisi keislaman yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Sesungguhnya bulan suci Ramadhan, dapat dimiliki oleh siapapun. Begitu juga mahasiswa yang menginginkan ikut bersumbangsih diri untuk meramaikan indahnya bulan penuh berkah sambil menjual takjil.
Akhirnya, semoga dengan terbukanya lembaran bulan ramadhan 1430 H ini dapat menumbuhkan antusiasme kaum muslimin ataupun mahasiswa untuk selalu berusaha untuk berwirausaha islami dengan menjadikan hidup penuh manfaat dan menyempurnakan iman di hati masing-masing. (*)