“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk. Kemudian kami kembalikan dia ke peringkat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mereka beramal shalih ,” (QS. At-Tin: 4-6)
Manusia adalah ciptaan Alloh yang paling mulia dan sempurna. Selain bentuk fisik yang bagus, ia pun dianugerahi Allah Ta’ala kemampuan berpikir melalui akal. Dengan modal akal ini, manusia dapat mempertahankan predikat kemuliaan dan kesucian fitrahnya. Tanpa memanfaatkan akal yang sehat, manusia akan terjerembab ke jurang kehinaan.
Salah satu ciri utama fitrah manusia adalah memiliki rasa malu. Ketika rasa malu hilang, manusia secara pasti memperturutkan hawa nafsunya dan mengabaikan petunjuk akal dan nuraninya (QS. Al-A’raf: 179).
Secara sederhana, malu dapat dimaknakan sebagai sifat atau perasaan yang membuat enggan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Dalam buku Adab an-Nabi, ustads Abdul Qadir Ahmad ‘Atha membedah secara bahasa kata ‘malu’ dengan cemerlang. Menurutnya, kata ‘al-hayyaa’ (malu) pada dasarnya memilki sinergi erat dengan kata ‘al-hayaat’ yang berarti kehidupan. Sebab, kata itu mengandung makna: perasaan sedih dan perubahan jiwa yang dapat menyedot segala kekuatan lahir dan batin, mencoreng kehormatan diri dan mengurangi harkat nilai keidupan manusia.
Sifat malu mutlak dimiliki seorang Muslim. Sebab rasa malu tak lain merupakan refleksi keimanan, laksana perisai yang dapat mencegah seseorang dari melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Bahkan mulia-hinanya akhlak seseorang dapat diukur dari rasa malu yang ia miliki.
Karena itulah, malu tak dapat dipisahkan dari keimanan. Keduanya selalu hadir bersama-sama. Makin kuat iman seseorang, makin tebal pula rasa malunya. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah saw bersabda: “Iman itu memiliki 60 sampai 70 cabang, yang paling utama ialah pernyataan ‘Laa ilaaha illallah’. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman,” (Muttafaq ‘alaih).
Jadi, seorang Musim yang benar-benar memiliki komitmen dalam menjalankan ajaran Islam tentu punya komitmen dalam memelihara sifat malunya. Sebab ketika rasa malu itu tak lagi bersemayam dalam jiwanya, pada hakikatnya keimanannya tidak lagi sempurna. Paling tidak, ketika rasa malu itu sedang hilang darinya. Sabda Rasulullah saw, “Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu jadi satu, maka apabila lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya,” (HR. Hakim dan Baihaqi).
Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama. Tanpa kontrol rasa malu, seseorang akan leluasa melakukan apa pun yang ia inginkan, meski hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu,” (HR. Bukhari). [*]
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Ditandai: kontrol diri, muslim berakal, rasa malu, sifat mulia | Leave a Comment »








Ada suatu kisah, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya, lalu beliau berkata kepada para sahabatnya, “Sebentar lagi akan datang kepada kalian seorang penghuni surga”. Lalu para sahabat mengalihkan pandangannya ke pintu masuk dan mereka menyaksikan seorang lelaki dari kaum Anshar datang menuju tempat mereka. Dari wajahnya tampak ketaqwaan, kesederhanaan, dan sikap toleransi yang tinggi. Akhirnya seorang sahabat rasul yang bernama Abdullah bin Amru suatu ketika memberitakan apa yang didengarnya dari Rasulullah kepada lelaki tsb dan menanyakan padanya akan satu amal saleh yang mungkin disembunyikannya, yang membuatnya berhak mendapatkan tempat di surga. Lelaki tsb menjawab, “aku tidk punya amalan lain, selain apa yang telah kau lihat. Aku melaksanakan shalat sebagaimana orang melakukannya. Aku melakukan ketaatan sebagaimana orang melakukannya. Bedanya..aku tidak pernah DENGKI terhadap siapapun atas kebaikan yang telah Allah anugerahkan kepadanya dan setiap kali aku hendak menuju tempat tidurku, aku tidak pernah menyimpan kedengkian kepada siapapun dalam hatiku”
Akibat gempa yang diperkirakan 3-4 kali lebih kuat dari gempa tsunami di Pangandaran tempo tahun, mengakibatkan banyak rumah warga mengalami kerusakan cukup parah, bahkan ada beberapa rumah yang hancur luluh lantak rata dengan tanah.
Bulan suci ramadan melahirkan berjuta keberkahan. Pada bulan yang amat dinanti seluruh kaum muslimin seluruh dunia itu, banyak diadakan kegiatan digelar, mulai dari berbuka dan terawih bersama, tadarus hingga ada sebagian pihak yang memanfaatkan momentum itu mengais rezeki dan mendapat penghasilan tambahan. Biasanya pihak-pihak yang terlibat didominasi oleh golongan anak muda yang masih duduk perkuliahan. Tak ayal Ramadan seakan menjadi katalisator bagi bermunculannya generasi-generasi wiraswasta instan.
Nikmatnya berbuka, jangan sampai melupakan kesehatan. Pilihan makanan, waktu memakannya dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan adalah sebagian dari cara sehat saat berbuka.













